Author: M Rifa’i

  • Selamat Jalan Wahai Panutan

    Selamat Jalan Wahai Panutan

    Kesaksian Agus Nurcholis Saleh

    Di suatu pagi, di kampus Universitas Mathla’ul Anwar. Waktu menunjukkan pukul 07:30 WIB. Seorang tua duduk menyendiri di meja, di depan kelas. Hamba memperhatikan dari kejauhan, tak ada seorang pun selain dirinya. Hamba ikut penasaran, sedang apa beliau di sana. Menunggu dan menunggu.

    Sekira lima belas menit kemudian, ia pun keluar dari kelas. Seraya bersalaman, beliau mengatakan, “Kamarana nya… barudak kiwari…” Ternyata beliau sedang menunaikan tugas. Ada jadwal mata kuliah di Fakultas Agama.

    Si mahasiswa harusnya bahagia dan bangga, tapi mereka tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa.
    Semua yang kenal beliau pasti tahu. Jika berjanji ketemu di waktu tertentu, maka 30 menit sebelumnya pasti sudah standby di tempat yang dijanjikan.

    Beliau tidak mau membuang waktu untuk sesuatu yang sia-sia. Adapun si mahasiswa, andaikan mereka tahu, hal itu pula yang akhirnya “mengakhiri” tugas beliau di Fakultas Agama.
    Waktu itu laksana pedang. Suatu pernyataan yang se-Mathla’ul Anwar tahu. Seluruh muslim sedunia telah mengetahui.

    Tapi dari pengetahuan itu, banyak manusia yang disabet pedang waktu karena mengalami kemacetan. Banyak manusia yang enggan transfer ilmu menjadi perilaku. Adapun beliau, sekali diucapkan maka akan diikuti dengan kenyataan.

    Oleh karena itu, Fakultas Agama sangat kehilangan. Teladan beliau tidak bisa mewarnai dan menjadi cermin di kehidupan nyata. Kehilangan itu semakin terasa oleh Mathla’ul Anwar saat pukul 19.51 WIB pihak keluarga menyampaikan berita. Allah telah memanggil pulang. Tugas dan rejeki beliau di dunia berakhir pada 5 Dzulhijjah 1442.

    Hamba sangat beruntung pernah mendapatkan kesempatan untuk menerima curahan ilmu dari beliau. Hamba diberi kunci oleh beliau untuk suksesnya tugas kehidupan di dunia. Hal itu pula telah ditegaskan oleh Allah dalam Alquran, “Aku kecualikan orang-orang ikhlas untuk tidak disentuh dan didekati oleh setan.”

    Itulah yang menjadi kunci keberhasilan akselerasi dan penetrasi Mathla’ul Anwar di masa dahulu. Asatidz pada zaman itu adalah para mujahhid. Mereka tidak berpikir apa-apa tentang melakukan sesuatu untuk mendapatkan apa. Insentif atau gaji adalah konsekuensi logis atas ‘amal, tapi hal itu tidak boleh diteriakkan di awalan. Tabu dan “haram”.

    Allah telah berjanji. Siapa menanam, dialah yang akan memetik hasil atas perjuangan. Semua orang boleh mengumumkan. Tapi menyembunyikan adalah sebuah kekhususan. Allah sangat menyukai hamba-Nya yang memiliki rahasia. Allah sangat mencintai manusia yang hanya curhat (bercerita) pada-Nya, tidak pada selain-Nya.

    Hari ini, banyak sekali manusia yang berpendidikan tinggi. Tapi ketinggian pendidikan itu hanya pada level administrasi. Adapun secara substansi, keikhlasan menjadi kunci. Jika ilmu telah diperjualbelikan, maka ilmu itu tidak mampu mendudukkan. Jabatan yang diduduki oleh manusia tak beda dengan fatamorgana.

    Almarhum merasa khawatir dan takut, jika keikhlasan itu telah ditanggalkan, maka keimanan telah ditukar dengan was-was, buta, dan keraguan. Ketiganya merupakan siksaan. Andai jalan di depan tidak terlihat, sang sopir menjadi stress dan dipenuhi kemarahan.

    Sedangkan di akhirat, kepedihan dan kepedihan akan saling bergantian.
    Berhati-hatilah dengan pamrih dan pencitraan. Sedikit-sedikit melaporkan.

    Allah pun dibuat “cemburu”, karena laporan itu bukan disampaikan kepada Allah, tapi kepada mereka-mereka yang gemerlapan hidup di dunia fana. Jika tidak ada yang memperhatikan, hasilnya adalah kekecewaan.

    Dunia pendidikan adalah yang dikhawatirkan almarhum, karena inti dari pendidikan adalah ilmu. Madrasah semakin semarak. Bangunannya telah berbeda. Dibantu pula oleh teknologi. Tapi ironi, kenapa pekertinya tidak membumi? Jarang sekali menemukan air mata haru karena akhlak para manusia.

    Sebaliknya, dunia ini gelap gulita.
    “Menjadi guru itu harus ikhlas.” Kalau selalu perhitungan, segera mundur dari guru. Digugu itu segala ucapannya cep-nyes, dan peserta didik langsung beraksi mewujudkan pengetahuannya. Para murid tidak membeda-bedakan sikap dan perilakunya, baik ketika di depan maupun saat di belakang. Everything is genuine.

    Almarhum membuktikan orisinalitas itu saat bertakziah. Beliau bukan petugas atau mengalir sebagai pelaksana upacara. Tapi ketika beliau mengetahui ada tetangga atau sanak saudara yang meninggal dunia, maka tak perlu waktu lama bagi beliau untuk meng’agung’kan (takziah) almarhum, baik secara ucapan, secara perasaan, maupun secara bantuan.

    Takziah adalah tahadduts bi al-nikmat. Ada petugas yang secara khusus mempromosikan almarhum selama hidupnya di dunia. Tentu, promosi itu berkaitan dengan konsistennya almarhum dalam melaksanakan amar ma’ruf nahyi munkar. Peserta takziah harus mendapatkan ilmu dan pengalaman tentang bagaimana nikmatnya bersama Allah.

    Takziah adalah tadzkiroh. Manusia boleh tidak percaya kepada Allah. Apalagi bagi mereka yang tidak mahir dalam kegaiban. Tapi adakah manusia yang tidak yakin kepada kematian? Setiap hari ada saja peristiwa kematian. Allah memanggil mereka pulang. Di masa covid ini, frekuensi kematian terasa meningkat tajam.

    Setiap peristiwa kematian adalah peringatan. Tidak hanya kepada mereka yang melupakan, tapi juga kepada mereka yang meyakini jalan pulang. Dunia adalah tempat persinggahan. Sementara saja. Tempat dimana manusia menguji kesempurnaan, dimana setiap hari adalah ujian kecerdasan dan kesadaran. Jangan kebablasan.

    Kematian adalah sebuah kepastian. Kematian adalah jalan. Kematian adalah terminal, sebelum sampai di tujuan yang sesungguhnya. Oleh karena itu, kematian adalah hal biasa. Bagi muslim sejati, kematian adalah kehidupan. Tidak perlu kesedihan. Justru yang seharusnya dipromosikan adalah tentang kebahagiaan. Sebentar lagi berpindah ke surga.

    Takziah adalah satu titik menuju surga. Oleh karena itu, setan harus dijauhkan dari syariat takziah. Mereka cukup berkerumun saja, tidak sampai menjadi aktor dalam peringatan. Takziah harus menjadi bagian dari sistem jariyah: apakah menjadi anak yang soleh, apakah pengabdian dalam harta, ataukah menjadi ‘amal atas ilmu.

    Jika bukan hal di atas yang dilakukan, maka substansi takziah telah resmi bergeser menjadi upacara. Bagi orang berada (kaya), hal itu tidak menjadi masalah. Bagi orang miskin/dhu’afa, kewajiban berupacara adalah beban dan berhutang, “Sudah jatuh tertimpa tangga.”

    Sedangkan dalam syari’at, miskin dan kaya adalah ujian keimanan.
    Bersyukurlah sebagai kaya, dengan mengembalikan semua titipan kepada yang berhak menerima. Kekayaan adalah titipan dari-Nya, maka segeralah dikembalikan lagi pada-Nya.

    Sebaliknya, berbanggalah menjadi orang “miskin” karena tidak banyak yang harus dipertanggungjawabkan. Indikator miskin dan kaya adalah iman, amal, dan cara.

    Di dunia, kita harus mempersembahkan karya. 24 jam adalah kesempatan. Habil dan Qabil telah mencontohkan. Bahkan, manusia diberi pelajaran untuk konflik dan cara menguburkan. Untuk sesuatu yang terbaik, kenapa persembahannya terbalik? Iman, amal, dan cara adalah satu kesatuan. Ketiganya harus relevan/sejalan dan tidak bisa dipisahkan.

    Pada kenyataan dunia, manusia selalu perhitungan. Jika ada udang, maka tak masalah terlempar batu. Jika surga adalah tujuan, kenapa manusia tidak mampu menghitung berapa harga surga? Justru, Allah telah membeli manusia dengan surga. Namun, hanya sedikit manusia yang menyadari hakikat hidupnya.

    Hamba meyakini bahwa Almarhum adalah bagian dari yang sedikit itu. Beliau tidak hanya dikenal di titik kediaman, tapi menyebar di semesta alam. Allah yang mengizinkan. Hamba pun mengenal beliau dari kejauhan. Hamba tertarik karena ada harum dan mewangi. Hanya dua jam saja berhadap-hadapan. Tapi hamba mendapatkan rahasia kesejatian.

    Di beberapa pelosok Pandeglang, nama beliau selalu disebutkan. “Ngan pa Bai doang nu rajin ka dieu mah.” Dengan tidak mengurangi hormat kepada tokoh yang lain, nama beliau begitu terkenang. Beliau begitu dirindukan. Sampai wafat menjelang, taklim bersama beliau selalu melahirkan sebuah kesan.

    Selamat jalan wahai panutan. Begitu banyak yang kehilangan. Andai hamba diizinkan untuk menjadi saksi, maka Engkau berhak mendapatkan bukti, bahwa janji Allah itu haq, bahwa Allah tidak akan lupa apa yang dikerjakan hamba-Nya di dunia, bahwa Dia akan membalas perjuangan hamba-Nya dengan kenikmatan tiada tara.

    Kematian adalah jodohnya kehidupan, sebagaimana kesedihan untuk kegembiraan. Allah telah memanggil beliau untuk pulang. Kesempatan di dunia telah berakhir. Allah pasti telah menyediakan. Oleh karena itu, tidak sedikit pun hamba merasakan sedih. Sebaliknya, hamba mengiringi kepergian itu dengan do’a dan titip salam.

    Hamba bersyukur bisa ada sedikit kesempatan untuk bertatap muka, berdiskusi, dan menerima luasnya pengetahuan yang dititipkan padanya.

    Jika hamba merasa bahagia, semoga keluarga yang ditinggalkan pun di level kebahagiaan yang sama. Mari bersama-sama kita antar beliau menuju Surga. Itulah hak beliau atas realisasi kewajibannya di dunia.

    Allah telah menciptakan. Allah telah mempercayakan. Allah menyiapkan bekal kehidupan. Allah telah menetapkan ukuran (qadar) dan skenario kehidupan. Ketika saatnya pulang, maka pulanglah dalam kedamaian. Ketika dilahirkan ke dunia secara sempurna, mari kembali kepada-Nya dalam kesempurnaan.

    Andai seorang hamba telah selesai di dunia, mari kita bantu untuk mensucikan. Makna dari memandikan adalah mensucikan. Kenapa harus “dibungkus” dengan kain putih, itulah simbol kesucian. Sebelum dikuburkan, mayyit pun dishalatkan. Maknanya, badan dan pikiran harus bersih dari kotoran, supaya jiwa mampu berkomunikasi dengan Yang Maha Suci.

    Pemakaman adalah jalan. Beliau harus diantarkan untuk bertemu Yang Maha. Asal manusia dari tanah, maka harus melebur kembali dengan tanah.

    Meskipun tidak bisa menyaksikan prosesi sampai pemakaman, hamba telah dan akan bersaksi bahwa almarhum telah menunaikan tugasnya. Dari Allah, bersama Allah, dan kembali lagi kepada Allah.

    Wallahu a’lam.

  • Peresmian Klinik MA & Peletakan Batu Pertama Rumah Sakit MA Diagendakan Akhir Tahun 2021 Ini

    Peresmian Klinik MA & Peletakan Batu Pertama Rumah Sakit MA Diagendakan Akhir Tahun 2021 Ini

    TANGERANG, MATHLAONLINE – PT. Nucare Indonesia Sehat dan Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PBMA) melakukan penandatanganan nota kesepahaman untuk pembangunan klinik dan rumah sakit di daerah Cipeucang, Pandeglang, Banten.

    irencanakan, tahun ini akan dilakukan peletakan batu pertama di lahan seluas 13000 meter atau 1,3 hektare itu.

    Seperti diketahui, rencana pembangunan layanan kesehatan itu bermula saat kedermawanan Dewan Penasehat (PBMA) Jend Pol (Pur), Taufiequrachman Ruki menghibahkan tanahnya untuk kepentingan masyarakat.

    Niat baik itu disambut baik oleh Ketua Umum, Embay Mulya Syarief dan jajaran Pengurus Besar Mathla’ul Anwar masa khidmat 2021-2026.

    “Kami terharu ada tanah 1,3 hektare diserahkan untuk kepentingan umat. Kami dari situ bersemangat,” ujar Dir. Ops dan Tek PT Nucare Indonesia Sehat, Miftakhudin Haryanto saat sambutan di acara pelantikan PBMA, Tangerang, Jumat (25/6/2021).

    Pihaknya mengaku optimis terhadap Pengurus Besar Mathla’ul Anwar di bawah kepemimpinan Ketua Umum, Embay Mulya Syarief.

    “Kami PT Nucare Indomesia Sehat optimis dan sangat optimis. Mudah mudahan tahun ini bisa meresmikan dan meletakkan batu pertama rumah sakit dan klinik kesehatan. Semangat ini mari kita dukung,” terangnya.

    Sementara, Embay Mulya Syarief mengaku optimis, rencana pembangunan rumah sakit dan klinik kesehatan itu diresmikan pada akhir tahun 2021.

    Sebelumnya pernah dikatakan Embay, rencana ini adalah salah satu bentuk kepedulian Mathla’ul Anwar kepada kesehatan masyarakat, khususnya di Provinsi Banten.

    “MA ini bergerak di bidang pendidikan, dakwah dan sosial. Salah satu wujud dalam gerakan sosialnya kita rintis klinik ini. Alhamdulillah Pak Taufik Ruki (Ketua KPK pertama) berkenan bekerjasama untuk mewujudkan cita-cita itu dengan menyediakan tempat ini,” katanya.

    Embay menjelaskan, bahwa rumah sakit dan klinik itu didirikan untuk menjawab kebutuhan dasar masyarakat.

    “Kedepan sesuai perkembangan dan kemampuan, kita tingkatkan menjadi sebuah rumah sakit. Kami mohon do’a nya agar segera terwujud” kata Embay yang juga salah seorang tokoh pendiri Provinsi Banten itu.

  • Aini, Siswi MAS MA Pasirdurung yang Terbitkan Tiga Judul Buku

    Aini, Siswi MAS MA Pasirdurung yang Terbitkan Tiga Judul Buku

    PANDEGLANG, MATHLAONLINE – Warga Mathla’ul Anwar patut berbangga atas prestasi yang diraih oleh Aini, siswi Madrasah Aliyah Mathla’ul Anwar Pasirdurung, Ds. Pasirdurung, Kec. Sindangresmi, Kab. Pandeglang.

    Pasalnya, Aini yang merupakan siswi kelas 2 MAS MA Pasirdurung itu sudah menerbitkan 3 judul buku yang berbeda dan kesemuanya merupakan buku fiksi atau novel.

    Badri Wijaya selaku Kepala MAS MA Pasirdurung mengaku kaget akan kabar berita itu. Karena iapun baru tahu akhir – akhir ini bahwa siswanya punya karya literasi yang sangat luar biasa. Hal itu ia sampaikan pada momen Peprisahan dan Kenaikan kelas Mathla’ul Anwar Pasirdurung.

    “Saya baru tahu ini, saya menangis semalam. Ternyata, anak saya siswa saya ada yang punya karya luar biasa, saya baru tahu. Ini sangat hebat,” tutur Badri.

    Di hadapan para dewan guru dan wali siswa yang hadir ia mengapresiasi betul karya Aini itu dengan langsung menelepon rekannya yang juga Ketua IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) Banten, Andi Suhud Trisnahadi.

    “Saya semalam menelopn Ketua IKAPI Banten, beliau siap dampingi Aini untuk mempromosikan karyanya itu. Dan kebetulan di MA juga ada pengurus IKAPI, Pak Dr. Ukun Kurnia. Beliau juga sangat siap untuk memfasilitasi dan mempromosikan karya Aini” katanya.

    3 buku yang ditulis Aini masing – masing berjudul: Sejarah CintaSesat, dan Dokter. Badri Wijaya menaruh rasa bangga yang tak terbendung pada siswinya itu. Ini adalah sebagai bukti komitmen Mathla’ul Anwar Pasirdurung untuk membentuk karakter siswa/i-nya. (fr)

     

  • Mathla’ul Anwar Tolak Penjajahan Israel Atas Tanah Palestina

    Mathla’ul Anwar Tolak Penjajahan Israel Atas Tanah Palestina

    Jakarta, Mathlaonline — Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PB MA) menolak penjajahan zionis Israel atas tanah Palestina. Konflik bersenjata yang sudah berlangsung lama antara kedua negara ini telah menelan banyak korban nyawa khususnya warga sipil.

    Ketua Umum Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PB MA) KH Embay Mulya Syarief berujar, apa yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina tidak sesuai dengan konstitusi negara, yaitu UUD 45. Di mana pada mukadimahnya tegas menolak penjajahan dan kemerdekaan adalah hak segala bangsa.

    “Penjajahan di muka bumi tak boleh ada. Palestina merupakan negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Itu sudah sesuai dengan amanat UU. Membantu palestina itu sudah merupakan kesepakatan,” kata Ustad Embay Mulya usai acara Pelantikan PB Pelajar Islam Indonesia (PII) periode 2021-2023 di Hotel Santika Premier Hayam Wuruk, Jakarta, Ahad (23/5/2021).

    Dalam pandangannya, tidak ada pro-kontra yang terjadi di Indonesia dalam menyikapi koflik yang terjadi di Palestina.

    “Allah memberikan kita fasilitas 1/3 malam. Berjuta orang muslim Indonesia bangun dan dirikan sholat tahajud. Setiap waktu baca qunut nazilah untuk Palestina. Jadi gak perlu demo-demo. Aksinya tengah malam aja diwaktu 1/3 malam. Itu lebih terhormat,” terang Embay.

    Sebelumnya, organisasi pendidikan dan dakwah yang didirikan tahun 1916 di Provinsi Banten ini mengecam aksi penyerangan yang dilakukan oleh pihak polisi dan tentara Zionis Israel terhadap Masjid Al-Aqsha dan kaum muslimin yang tengah melaksanakan ibadah sholat pada malam ke-26 Ramadhan 1442 H lalu.

    Mathla’ul Anwar menilai penyerangan tersebut merupakan tindakan biadab dan tidak berperikemanusiaan. Oleh karena itu, Mathla’ul Anwar sebagai bagian dari pada ummat Islam dan Bangsa Indonesia yang sangat menentang penjajahan dalam bentuk apapun.

    Mathla’ul Anwar juga mendukung rakyat Palestina khususnya di Al-Quds/Yerussalem dan
    Masjid Al-Aqsha serta rasa bangga atas keteguhan hati mereka menjaga masjid dan tanah suci kaum muslimin.

    “Menyerukan kepada segenap umat Islam untuk saling mengajak ummat Islam lainnya agar membuktikan kepeduliannya terhadap Al-Aqsha dengan sama-sama mendoakan dan memberikan donasi serta bantuan semaksimal mungkin kepada kaum muslimin penduduk Al-Quds sebagai para penjaga masjid Al-Aqsha,” kata Embay dalam siaran persnya menyikapi serangan brutal tentara Israel terhadap warga Palestina.

    Dia juga menginstruksikan kepada seluruh Pengurus Wilayah, Pengurus Daerah, Pengurus Cabang, dan Pengurus Perguruan Mathla’ul Anwar seluruh Indonesia, untuk melakukan penggalangan dana bagi masjid Al-Aqsha dan warga Palestina.

  • Maklumat Mathla’ul Anwar Terhadap Serangan Zionis Israel

    Maklumat Mathla’ul Anwar Terhadap Serangan Zionis Israel

    Penyerangan pihak polisi dan tentara penajajah Zionis Israel terhadap Masjid Al-Aqsha dan kaum muslimin yang sedang melaksanakan ibadah sholat di dalamnya, pada malam ke-26 Ramadhan 1442 H bertepatan dengan tanggal, 8 Mei 2021 M, yang kemudian penyerangan tersebut dilanjutkan pada malam berikutnya,
    sungguh merupakan tindakan biadab dan tidak berperikemanusiaan.

    Oleh karena itu, Mathla’ul Anwar sebagai bagian dari pada ummat Islam dan Bangsa Indonesia yang sangat menentang penjajahan dalam bentuk apapun, memandang perlu untuk mengeluarkan suatu Pernyataan sikap sebagai berikut :

    1. Mengutuk keras tindakan biadab tersebut yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang
    universal ditinjau dari sudut apapun juga;
    2. Meminta kepada Pemerintah Indonesia, agar menyatakan sikap tegas atas tragedi tersebut dan semakin
    meningkatkan dukungannya terhadap kemerdekaan Palestina sebagai wujud pelaksanaan amanah konstitusi bahwa segala bentuk penjajahan di atas dunia harus dihapuskan;
    3. Menyampaikan dukungan sepenuhnya kepada rakyat Palestina khususnya di Al-Quds/Yerussalem dan Masjid Al-Aqsha serta rasa bangga atas keteguhan hati mereka menjaga masjid dan tanah suci kaum muslimin;
    4. Menyerukan kepada segenap umat Islam untuk saling mengajak ummat Islam lainnya agar membuktikan kepeduliannya terhadap Al-Aqsha dengan sama-sama mendoakan dan memberikan donasi serta bantuan semaksimal mungkin kepada kaum muslimin penduduk Al-Quds sebagai para penjaga masjid Al-Aqsha;
    5. Menginstruksikan kepada seluruh Pengurus Wilayah, Pengurus Daerah, Pengurus Cabang, dan Pengurus Perguruan Mathla’ul Anwar seluruh Indonesia, untuk melakukan penggalangan dana bagi
    masjid Al-Aqsha dan warga Palestina, terlebih khusus disisa hari-hari Ramadhan tahun ini.

    Demikian Pernyataan Sikap ini kami sampaikan, sebagai wujud solidaritas sesama muslim dan sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
    Mudah-mudahan Allah SWT senantiasa memberikan pertolongan kepada kita. Amin.

     

  • JANGAN BUAT ALLAH CEMBURU

    JANGAN BUAT ALLAH CEMBURU

    Oleh Agus Nurcholis Saleh

    Penulis adalah Dosen di Universitas Mathla’ul Anwar, Program Studi Hukum Keluarga Islam

    KUNCI mendapatkan malam kepastian (lail al-Qadr) itu sangat sederhana. Lail al-Qadr is the most wanted of night. Eh, itu pun bagi yang faham saja. Terlalu banyak umat manusia dunia yang tidak paham dengan kemampuannya, termasuk jatahnya mendapatkan keistimewaan lail al-Qadr.

    Hanya sekedar informasi saja, “Malam qadar adalah malam diturunkannya Al-Qur’an. Malam itu adalah malam kemuliaan. Malam itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.”

    Malam itu posisinya di bulan Ramadlan. Banyak orang mencari-cari informasi, disebabkan tidak banyak orang yang siap standby selama di 30 malam Ramadlan. Ada orang yang ingin lebih rinci. Katanya untuk efektivitas dan efisiensi. Kalau bisa diketahui malam itu secara pasti, maka konsentrasi hanya untuk malam itu saja.

    Begitulah manusia. Hanya akan berbuat jika ada maunya, bukan atas sebab butuhnya. Manusia sendiri masih rancu dalam needs atau wants. Dalam estimasi manusia, jika sudah mendapatkan malam qadar, maka ada jaminan dalam seribu dibagi dua belas, maka di angka itulah manusia ‘boleh leha-leha’.

    Manusia hanya mampu menciptakan lagu, “Mau makan ingat kamu, mau mandi ingat kamu, mau bobo ingat kamu.” tapi tak mau melaksanakan isi lagunya. Manusia jarang sedia mengganti huruf ‘k’ pada kata ‘kamu’ dengan ‘k’ besar. Artinya, ‘kamu’ di situ jangan terbatas pada hal yang bersifat duniawi saja, tapi Dia-lah Yang Maha Besar.

    Allah telah memperingatkan, silahkan manusia mencoba-coba menghitung berapa nikmat yang telah diterimanya. Tapi untuk kebutuhan dirinya, kenapa manusia masih perhitungan juga? Padahal, jika benar-benar dihitung, posisi manusia berada di saldo minus. Terlalu banyak nikmat yang belum dibahagiakan oleh manusia.

    Bulan Ramadlan adalah bulan bahagia. Secara tega, manusia mengubahnya menjadi bulan segala alasan. Ada banyak alasan dikemukakan, sehingga jam kerja dikurangi. Sebaliknya, jam leha-leha jadi bertambah. Belum lagi dengan alasan bangun malam. Padahal hanya untuk makan.

    Ada siang dijadikan malam. Siangpun berganti menjadi malam.
    Bulan Ramadlan adalah bulan keistimewaan. Tapi manusia jarang sekali yang membuatnya istimewa. Malam-malam hanya diisi dengan sampah kembang api. Beberapa kali diselingi dengan bunyi petasan dan teman-temannya.

    Dari masjid hanya terdengar suara Alquran. Tapi Alquran hanya disuka dalam bacaan, bukan mewujud dalam kehidupan.

    Andai malaikat memiliki kemurkaan, sudah habis manusia dimusnahkan. Pasti betapa kecewanya melihat manusia berkehidupan.

    Terlalu banyak nikmat Allah yang disia-siakan. Terlalu banyak kasih Allah yang lewat begitu saja. Terlalu banyak pertolongan Allah yang terbuang percuma. Manusia mengacuhkan ‘tangan’ Allah untuk ketidakjelasan tangannya.

    Manusia sangat tak mau tahu bahwa bisa itu dibisakan, bahwa mampu itu dimampukan, bahwa kuat itu dikuatkan, bahwa kaya itu dikayakan, bahwa pintar itu dipintarkan, bahwa tenang itu diberi ketenangan. Kenapa sulit sekali menyadari? Padahal Allah selalu mengontak manusia. Setidaknya, rasakanlah detak tubuhnya melalui urat nadi.

    Setiap otot itu berdetak, sambutlah dengan Maha Suci Allah (subhanallah), sebutlah Allah untuk berterima kasih (alhamdulillah), sadarilah Allah sebagai Yang Maha Besar (Allah akbar), bahwa manusia itu kecil, lemah, banyak keterbatasan, maka ikrarkan dengan seyakin-yakinnya kepada Yang Maha Gagah Perkasa (la ilaaha illa Allah).

    Jika tidak mampu dalam setiap detik berdetak, sebutlah Dia dalam waktu-waktu shalat. Jika masih tidak mampu, ingatlah Dia di pagi dan sore. Jika masih tidak, buatlah laporan semalam sekali, sebelum manusia dimatikan untuk diberi rehat mengistirahatkan anggota badan. Jika masih tidak, wajarlah jika Allah mengunci hati dan lantas mematikan.

    Nyatanya, malam qadar pun tak banyak manusia yang standby menjemputnya. Bagi yang memilih kesibukan dunia, maka dunialah sebagai tameng hidupnya. Alasan kebutuhan adalah alasan ketidakmampuan. Manusia tidak mampu memetakan, mana yang dibutuhkan pikiran, maka yang dibutuhkan perasaan, dan mana yang dibutuhkan oleh anggota badan.

    Setelah memiliki satu kendaraan, manusia ingin menambahnya menjadi dua. Tangan manusia sudah memegang dua gadget, ternyata masih ingin tiga, empat, dan lima. Tapi untuk shalat, jika bisa satu menit, kenapa harus ditambah menjadi dua menit.Jika bisa dipercepat, kenapa tarawih harus diperlambat?

    Di bulan puasa ini, Allah terlalu banyak disakiti. Itu manusia lebih berharap kepada maghrib dengan berbagai makanan yang disiapkan. Ada yang mengejar kesegaran takjil, dibela-belain antri, dan setiap sore dirindukan.

    Padahal di dekat manusia, Allah menunggu dipanggil-panggil. Bersyukurlah jika salah rindu itu ditolong oleh do’a yang diucapkan.
    Tak lebih dari seminggu, Ramadlan akan pergi meninggalkan. Sebelum terlambat, mari khususkan waktu akhir ini untuk menambal lobang-lobang kebodohan.

    Kepada Allah jangan membuat hitungan. Nanti dibalikkan dalam pertanyaan-pertanyaan. Sedikitpun manusia tidak akan mampu memberikan jawaban. Yang terbaik dari jawaban adalah pengabdian.

    Di sisa waktu ini, mari ingat Allah, kita sebut Dia, kita sucikan anggota badan kita, jiwa beserta pikiran, kita rasakan belaian-Nya, untuk kekuatan perjalanan. Tidak ada kata untuk terlambat. Malam qadar itu pasti secara sengaja diberikan Allah kepada hamba-hambanya. Apalagi bagi mereka yang setia bersama-Nya, dalam dzikr, dalam sujud, dalam do’a (shalat), Kuncinya ‘jangan buat Allah cemburu’.

    Wallahu a’lam.

  • Berburu Malam Lailatul Qadr, Ini Kiat dari UAS

    Berburu Malam Lailatul Qadr, Ini Kiat dari UAS

    Hikmah, mathlaonline — Sepanjang Ramadhan, terdapat satu malam yang paling ditunggu umat Islam, yakni Lailatul Qadar. Malam kemuliaan itu lebih baik dari pada seribu bulan (QS al-Qadar: 3). Jumhur ulama berpendapat, malam itu terjadi pada 10 hari terakhir Ramadhan. Apalagi pada malam-malam ganjil, semisal malam 21, 23, 25, 27, dan 29.

    Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang beribadah pada Lailatul Qadar semata-mata karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah SWT, niscaya diampuni dosa-dosanya yang terdahulu” (HR Bukhari).

    Bayangkan Ramadan Terakhir

    Ustaz Abdul Somad (UAS) menyampaikan beberapa saran agar Muslimin dapat meraih kemuliaan Lailatul Qadar.

    Pertama-tama, bayangkanlah Ramadhan kali ini sebagai yang terakhir dalam hidup kita. Dengan anggapan demikian, insya Allah kita dapat sungguh-sungguh serius dalam melalui setiap menit, jam, dan hari sepanjang bulan suci. Kita akan merasa rugi bila melewati waktu tanpa beribadah kepada Allah SWT.

    Fokusnya bukan sekadar satu malam, melainkan seluruh malam pada bulan suci. Dengan begitu, Lailatul Qadar tak akan terlalaikan. “Anggap ini Ramadhan terakhir. Ingat, manusia mati tidak membawa apa-apa kecuali amal,” kata UAS kepada Republika beberapa waktu lalu.

    Tobat Nasuha

    Tips selanjutnya dari UAS agar seorang Mukmin mendapatkan Lailatul Qadar ialah tobat. Menurut suatu hadis, selama Ramadhan Allah SWT membuka lebar pintu ampunan bagi hamba-hamba-Nya yang ikhlas bertobat. Siapkan hati dengan penuh kerendahan diri di hadapan-Nya. Ingat lagi bagaimana kita melalui hari-hari dalam kehidupan ini. Betapa banyak dosa dan kesalahan yang sudah dilakukan.

    “Merasa diri banyak dosa-dosa, bersimpuh memohon ampunan-Nya,” ujar alumnus Universitas al-Azhar itu.

    Seyogianya kita menyadari, Ramadhan adalah kesempatan untuk melakukan tobat nasuha. Apalagi, dalam 10 malam terakhir bulan suci.

    Kita pun mesti optimistis. Jangan berputus asa dari rahmat Allah. Sabda Nabi SAW, “Allah lebih senang pada tobatnya seorang hamba yang bertobat melebihi senangnya orang kehausan yang menemukan air.”

    Perbanyak Amalan

    Semangat “Ramadhan terakhir” dan kesungguhan bertobat adalah dorongan yang kuat untuk memperbanyak amalan sunah. Agar upaya maksimal, UAS menyarankan agar Muslimin mengurangi tidur dalam 10 malam terakhir Ramadhan. Dengan begitu, waktu untuk beribadah pun semakin banyak.

    Di luar puasa dan amalan-amalan wajib lainnya, Muslimin pun dianjurkan untuk mempersering ibadah sunah. Misalnya, tadarus Alquran, shalat tarawih, witir, dan sebagainya. Begitu pula dengan shalawat dan zikir. “Sahabat Nabi SAW, Abu Hurairah, bertasbih dua ribu kali semalam,” ujar UAS.

    Tak harus di masjid. Rumah pun dapat menjadi tempat menanti kemuliaan malam Lailatul Qadar. Semoga kita semua diridhai-Nya untuk meraih hal itu!

  • PENDIDIKAN TAK BERPENDIDIKAN

    PENDIDIKAN TAK BERPENDIDIKAN

    Oleh Agus Nurcholis Saleh

    Penulis adalah Dosen di Universitas Mathla’ul Anwar, Program Studi Hukum Keluarga Islam

    Ada banyak wilayah yang dikenal se-Indonesia sebagai kota pelajar. Satu diantara yang terkenal adalah Yogyakarta. Tentu, masih banyak kabupaten/kota lain yang mendapatkan julukan serupa, dengan berbagai ciri khas dan keistimewaan lainnya.

    Setidaknya, kabupatan/kota itu sering menjadi destinasi, terutama karena ada lembaga pendidikan bonafid yang terdapat di wilayah tersebut.

    Di Banten, Menes menjadi salah satu tujuan berpendidikan, baik dari wilayah Pandeglang sendiri, maupun dari luar Pandeglang. Apalagi keberadaan Mathla’ul Anwar, sebagai pionir pendidikan, menjadi daya tarik tersendiri.

    Di suatu masa dahulu, rumah orang tua seorang sahabat dari Pasir Waru menjadi homebase pelajar Mathla’ul Anwar dari daerah Kepuh dan Lampung.

    Hari ini, apa yang terjadi di suatu daerah adalah jejak dari sebelum-sebelumnya. Apakah masih terjaga ‘kepopuleran’nya atau sudah luntur karena tidak dipelihara, maka yang tersisa hanyalah monumen dan kisah-kisah heroik masa lalu.

    Peringatan dari Allah seringkali dianggap angin lalu. Bisa jadi terlena dengan kesegaran angin semilir yang menyapa sekujur tubuh. Padahal, tugas manusia hanyalah menjaga bonafiditas.

    Bonafid adalah kata sederhana dari ragam faktor yang ada di dalamnya. Kalau dikaitkan dengan pendidikan, maka faktor input dan proses adalah pembangun bonafiditas.

    Input itu terdiri dari man, material, money, modal, dan machine. Ini dikenal sebagai 5M. Sedangkan faktor proses adalah managerial alias kepemimpinan.

    Hal ini terkait dengan bagaimana seseorang berusaha menjadi, atau bagaimana sebuah lembaga menjadi bonafid.

    Secara kamus besar, bo.na.fid artinya dapat dipercaya dengan baik. Sedangkan bo.na.fi.di.tas adalah hal dapat dipercaya, baik dari segi kejujuran maupun dari segi kemampuannya.

    Tentu, lembaga pendidikan menjadi bonafid adalah yang mampu menjaga atau memelihara kelima faktor itu terkelola secara profesional. Adapun yang tidak berkemampuan, inilah pendidikan yang tak berpendidikan.

    Kalau melihat Alquran, membaca adalah inti dari pendidikan. Jika tidak bersedia membaca, maka kepintaran manusia akan luntur ditelan masa.

    Kesempurnaan itupun tinggal cerita. Sulitkah manusia untuk membaca? Kenyataan dunia adalah jawabannya. UNESCO menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia. Sungguh pahit mengetahuinya. Betapa minat baca orang Indonesia sangat rendah.

    Data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari seribu orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca! Modernitas hanyalah kamuflase.

    Apalah artinya sekolah atau madrasah. Para siswa dan mahasiswa hanya mendapatkan status saja sebagai pelajar atau sangat terpelajar.

    Benarlah di masa dahulu, Surat Tanda Tamat Belajar, bukan telah belajar apalagi terpelajar.

    Di suatu kekesalan, hamba pernah bercita-cita untuk menjadi Menteri Pendidikan. Tapi tugasnya hanya satu, dalam ‘lamunan’ itu, yaitu membubarkan lembaga pendidikan.

    Bagaimana dengan uang BOS? Biarlah ibu-ibu menjalankan perannya secara maksimal, dan itu harus didukung secara maksimal. Oleh karena itu, rekening BOS adalah rekening ibu-ibu, jumlahnya menyesuaikan dengan anak-anak yang dipercayakan Allah kepada mereka.

    Hamba pun banyak diprotes oleh teman. Katanya, saya anti kemapanan. Bisanya hanya mengacaukan. Memang benar, karena kebiasaan, manusia-manusia akan merasa terganggu jika kebiasaannya dibubarkan.

    Sulit sekali memindahkan tangan di bawah menjadi tangan di atas. Begitulah pendidikan tak berpendidikan. Sekolah itupun menjadi kebiasaan. Mereka tidak bergerak karena ilmu, apalagi keikhlasan. Begitulah tantangan. Mari kita jawab.

    Sadarkah manusia bahwa mereka itu luar biasa sempurna? Malaikat pun sampai terdiam. Allah yang menegaskan. Jika seantero alam semesta ini dihafal oleh manusia, maka otaknya memiliki kemampuan untuk melakukan.

    Komputer cerdas itu buatan manusia kan? Kenapa pembuatnya jadi terjajah oleh mesin ciptaannya? Teknologi itu diciptakan. Bukankah manusia yang menciptakan teknologi?

    Oleh karena itu, kalau hanya sekadar membaca, apa sulitnya bagi manusia? Manusia, melalui kepala, hati, dan perangkat di badannya, telah diberi bekal oleh Allah untuk menjadi pemain inti.

    Lalu, kenapa banyak manusia banyak yang ke pinggiran dan memilih menjadi pemain cadangan? Bahkan, untuk bercita-cita pun, banyak diantara para pelajar yang memilih mundur dan berlari dari mencari jawaban. Itulah pendidikan tak berpendidikan.

    Manusia harus ingat. Allah mengirimkan manusia karena manusia meminta Allah untuk di’pekerja’kan. Oleh karena itu, pertanggungjawabkan permintaan itu. Kerja. Kerja. Kerja. Tapi manusia harus bekerja dengan pengetahuan, bukan sekerja-kerjanya. “Saya mah yang penting bekerja.”

    Ternyata, ketika pekerjaannya tidak sesuai dengan keinginannya, manusia lari seribu bahasa. Begitulah kalau manusia bekerja untuk manusia.
    Manusia itu terlalu sering mengecewakan, karena manusia tidak memiliki kemampuan untuk memuaskan banyak kalangan.

    Kemampuan manusia itu dimampukan. Allah yang membuat manusia memiliki kemampuan. Jika seorang siswa rangking satu, maka Allah lah yang membuat dia itu rangking satu. Adapun guru hanya terlibat dalam penulisan saja. Kalau ada guru yang protes, wajarlah jika pendidikan itupun tak berpendidikan.

    Yu mari semua sampaikan protes. Allah akan menerimanya. Apalagi saya, bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Itulah gelar hamba, sebagaimana teman telah lebih dahulu memakainya.

    Di belakang namanya tertulis, BAA, BSS. Dari protes itu, mari kita belajar untuk memperbaiki. Diri sendirilah yang bertanggung jawab untuk memulai dan mengakhiri. Jangan menunggu diakhiri oleh Allah melalui panggilan kuburan.

    Wallahu a’lam.

  • ADA APA DENGAN ALQURAN?

    ADA APA DENGAN ALQURAN?

    Oleh Agus Nurcholis Saleh

    Penulis adalah Dosen di Universitas Mathla’ul Anwar, Program Studi Hukum Keluarga Islam

    ISENG menghitung masjid. Dari tempat domisili menuju tempat bekerja, hanya yang di pinggir jalan saja, ternyata berjumlah 15 buah. Secara jarak, perjalanan pergi/pulang menempuh 8,4 kilometer.

    Secara maps google, jarak itu bisa ditempuh dalam 17 menit. Seluruh masjid itu telah disinggahi. Ada yang nyaman untuk berlama-lama, ada juga yang ingin segera, hanya untuk kebutuhan shalat saja. Apalagi jika masjid-masjid itu menyediakan Alquran yang menarik hamba untuk membaca. Kisahnya pasti berbeda.

    Dua kata yang menjadi kunci dalam tulisan ini adalah ketertarikan dan membaca. Sedangkan masjid sebagai pendukung saja. Jika manusia sangat tertarik kepada Allah, pasti sebagian besar waktunya akan didistribusikan ke masjid. Jika manusia memiliki daya baca yang terpelihara, maka Alquran adalah teman setianya.

    Sebagai tempat, masjid akan merasa bahagia telah membantu manusia. Sebagai ‘media’, Alquran akan membalas pembacanya di hari kiamat dengan kemudahan-kemudahan yang telah direstu-tetapkan oleh Allah.

    Restu Allah itu maha sangat penting. Ada banyak manusia meminta do’a restu. Bahkan di undangan pun sering terselip do’a restu. Tapi sedikit manusia yang meminta restu itu kepada Allah. Nyatanya, manusia hanya mengandalkan lisan dalam permohonan.

    Adapun request via Alquran, hanya sedikit yang melakukan. Lebih ironi lagi kepada mereka yang mengaku dekat dengan Alquran, tapi tampilan perbuatannya tidak Qur’ani. Mungkin sekali ini semacam tuduhan, tapi kenyataan dalam kehidupan adalah bukti dari tuduhan tersebut.

    Bulan Ramadlan ini adalah fakta. Alquran terfragmentasi ke banyak wujud. Pertama, Alquran sebagai barang. Alquran adalah produk percetakan yang dipajang di banyak tempat. Meskipun hanya di etalase, pengaruh Alquran cukup signifikan.

    Setidaknya, Alquran mengingatkan manusia melalui mata. Selain itu, ada banyak tangan yang memegang (lembaran), mengangkat-angkat, dan atau memindahkan. Semoga saja mereka berkeyakinan untuk selalu dalam keadaan suci. Pastilah wudlu mereka tidak pernah putus.

    Kedua, Alquran sebagai simbol Islam. Hal ini masih setara dengan Alquran sebagai barang. Ketika di sebuah ruangan melihat Alquran, atau di mobil/kendaraan tergeletak Alquran, maka penghuninya ada yang beragama Islam.

    Ketika seseorang membawa Alquran, tidak perlu bertanya tentang agamanya, karena langsung diasumsikan bahwa orang tersebut beragama Islam. Simbol adalah ciri. Meskipun diturunkan untuk seluruh manusia, Alquran adalah ciri bagi seseorang untuk disebut-sebut sebagai Muslim.

    Ketiga, Alquran sebagai bacaan. Pertanyaannya, seberapa banyak manusia (muslim) membacanya? Logika dari kehadiran Alquran, membaca adalah keharusan.

    Hal itu untuk kemerdekaan, karena jika bertahan di posisi mendengarkan, adakah orang lain yang bersedia membacakan? Menjadi tergantung itu tidak mengenakkan.

    Menggantung yang benar hanyalah kepada yang kuat, kokoh, dan tidak tertandingi. Jika manusia bersandar, maka sandaran itu tidak akan pernah roboh. Informasi ini lengkap dituliskan di Alquran.

    Sebagai bacaan, Alquran bersifat ‘pasif’. Alquran setia menunggu para pembaca untuk membuka, membaca, dan menikmati isinya. Manusia benar-benar dimerdekakan, hal itu untuk sampai pada tahap kesadaran.

    Allah dan Alquran tidak melakukan pengumuman, apalagi promo. Allah percayakan kepada manusia sendiri untuk merasakan bagaimana signifikansi Alquran untuk kehidupan, kemudian mengetuk mereka untuk mempromosikan bagaimana Allah Yang Demikian Sayang. Semoga banyak manusia yang merasa-lakukan.

    Alquran adalah ‘pertanggungjawaban’ Allah kepada manusia. Setelah menciptakan, Allah membuat panduan, supaya manusia tidak salah jalan, dan berhasil kembali ke pangkuan dalam kesucian.

    Dengan panduan Alquran, Allah sedang mewujudkan kasih sayang-Nya kepada manusia. Jika untuk pertanggungjawaban, manusia harus ditempa dengan keras, itu bagian dari kasih sayang.

    Orang tua dan guru-guru sering melakukan, bahwa kasihan itu tidak serta merta dalam bentuk pemberian atau persetujuan pelulusan.
    Alquran adalah petunjuk keselamatan. Sebagaimana sehat, untuk selamat itu dibutuhkan rupa-rupa tekanan dan kepahitan.

    Dalam hal ini, Allah menegaskan bahwa Alquran diturunkan tidak untuk memberatkan. Jika oleh manusia terasa berat, maka setting pikirannya yang harus diatur. Manusia sering lupa ia sedang melakukan apa, bahwa di dunia ini bukan jalan-jalan atau bersenang-senang.

    Maka, fokuslah pada tugasnya. Untuk meringankan, maka buatlah rencana perjalanan, harian, mingguan, bulanan, dan tahunan.

    Dari iseng menghitung masjid tadi, ternyata hidup manusia dipimpin oleh rutinitas. Jika rutinitas itu melalui perencanaan, tentulah sebuah kebaikan. Setelah pembiasaan, maka berikutnya adalah penciptaan karakter. Sayang, tidak banyak yang betah tinggal di masjid. Siang kosong, malampun sepi.

    Bahkan banyak masjid yang dikunci. Kalau ada yang tiduran, seringkali dianggap sebagai ‘kotoran’. Apakah sulit bagi pejabat masjid untuk memunculkan dugaan bahwa mereka itu sedang i’tikaf. Bukankah membantu istirahat adalah kebaikan?

    Tidur adalah kebutuhan, sampai batas/ukuran tertentu yang dikehendaki tubuh, alias selama proporsional dengan aktivitas tubuh. Tidur adalah mekanisme istirahat secara keseluruhan, termasuk dari kesalahan kebiasaan.

    Daripada membuat dosa, dengan ghibah misalnya, bukankah tidur adalah istirahat (berhenti) dari membicarakan orang? Dari 24 jam keseharian, delapan jam adalah untuk yang pas untuk tidur, sampai kemudian, semakin tua, tidur semakin berkurang. Bagi umat Islam, tidur pun bisa bernilai ibadah.

    Kuncinya adalah ikrar dan kepasrahan. Di sepanjang usia harian, sisa dari mengistirahatkan badan dan pikiran, kurang lebih ada enam belas jam. Ikrarkan oleh kita untuk diisi dengan Alquran. Bacalah basmalah sebagai awalan, kemudian tutup dengan mengucapkan hamdalah.

    Adapun keberartian dan kebermanfaatan, kita pasrahkan kepada Yang Menguasai alam. Kita harus menjadikan Alquran sebagai inti dari kehidupan, bukan sebagai “sisa” karena bingung dengan apa yang harus dikerjakan. Bukalah dan bacalah.

    Siapapun yang membaca Alquran, motifnya pasti beragam. Ada yang merasa terpaksa, karena perintah dan tekanan. Ada juga yang penasaran, sebagaimana para muallaf melakukan. Selain itu, ada juga yang karena tugas atau prasyarat pekerjaan/profesi. Ada yang menghafal ayat karena amplop dan uang.

    Wahai para pembaca dan manusia pada umumnya, kenapa tidak sekalian saja mencintai? Segala sesuatu itu harus keseluruhan, maksimal saja sekalian. Hidup tidak boleh di tepi. Hidup itu bukan icip-icip.

    Kepada mereka yang telah mencintai, maka Alquran pun mengembalikan cinta itu berlipat-lipat banyaknya. Jika para pecinta itu memiliki kebutuhan, maka Allah akan segera memberikan. Kalau sudah dekat, apa yang terhambat?

    Alquran adalah pesan kehidupan sekaligus petunjuk berjalan ke depan. Jika ingin kepastian di depan, maka Alquran harus dijadikan sebagai satu-satunya pegangan. Lengkaplah sudah titik-titik kehidupan. Dengan pengetahuan ke belakang (kisah para pendahulu), maka lurus ke depan bukanlah hambatan.

    Alquran adalah jalan kecerdasan. Alquran adalah pembeda manusia, mana yang berjalan memenuhi panggilan-Nya, mana yang memilih melawan kehendak-Nya. Siapa yang konsisten membaca, maka Allah turunkan hijab rahasia sebagai perlindungan dari para pecinta dunia.

    Mereka akan terus merawa kehausan, meskipun bekal dunianya sudah berlebihan. Hidupnya terasa kosong dan hampa. Begitulah seterusnya sampai tiada terhingga lamanya. Lantas dengan modal apa mereka ingin ke surga?

    Alquran adalah pengisi kekosongan dan kehampaan. Bersama covid-19, Alquran adalah sahabat untuk menenteramkan. Ada banyak manusia yang khawatir tak berkesudahan.

    Mereka sangat tergantung dengan tawaran-tawaran dunia, dan setiap hari menggerus pundi-pundi mereka. Ketika dilantunkan Alquran, bukannya diterima dengan kesadaran. Justru, mereka histeris dengan ketidakpercayaan. Ya sudahlah. Hal itu persis dengan yang teramati di masjid-masjid tadi. Sayang sekali.

    Ternyata, Alquran yang berada di masjid-masjid tadi terlalu sukar untuk “dijangkau”. Ada yang terkunci di lemari, ada juga yang terselimuti oleh debu. Apakah masjid itu hanya untuk shalat?

    Padahal shalat itu tidak hanya sujud. Apakah shalat itu hanya berdiri fiqh sejak niat sampai salam? Padahal, shalat, masjid, Alquran, dan manusia adalah satu kesatuan. Setidaknya, lima waktu dalam sehari, manusia-manusia itu sedang disatukan kembali setelah jeda dunia menceraikan dan memporak-porandakan kesejatian hamba.

    Dari sekian informasi tersebut di atas, masihkah ada hasrat di manusia untuk melawan? Dengan demikian, Alquran itu tidak pernah memiliki kesalahan. Justru, pertanyaan yang benar adalah ‘Ada apa dengan Manusia?’ Ketika telah dimerdekakan, manusia mempersempit diri dengan berbagai penganiayaan.

    Alquran adalah modal kesadaran. Manusia harus menyegerakan, jangan menunggu-nunggu godaan datang.

    Wallahu a’lam.

  • Keutamaan Tadarus Al Quran di Bulan Ramadan

    Keutamaan Tadarus Al Quran di Bulan Ramadan

    Salah satu amalan yang dianjurkan di bulan suci Ramadhan adalah memperbanyak membaca Alquran. Selain karena pahala ibadah akan berlipatganda, Alquran pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad di bulan yang penuh berkah tersebut.

    Mengutip buku Tuntunan Ibadah di Bulan Ramadhan karya Toni Yunanto (2019), dalam hadits shahih dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bertemu dengan Malaikat Jibril setiap malam pada bulan Ramadhan untuk membacakan kepadanya Al-Qur’anul Karim.

    Maka tidak heran apabila banyak umat Islam yang ingin mengikuti jejak Rasulullah dan memasang target untuk mengkhatamkan Alquran di bulan suci Ramadhan.

    Namun, bagaimana caranya? Berikut ini adalah tips khatam Alquran di bulan Ramadhan yang dihimpun dari berbagai sumber:

    Membangun Niat

    Niat dibutuhkan untuk membangun tekad kuat agar seseorang dapat mengerjakan suatu ibadah dengan istiqamah. Tentu saja mengkhatamkan Alquran harus diniati untuk mengharap ridha Allah SWT.

    Rasulullah bersabda,“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari, no.1 dan Muslim, no.1907).

    Buatlah komitmen dan yakinkan diri sendiri bahwa Anda dapat khatam Alquran selama Ramadhan. Misalnya dengan mengingat atau menulis kalimat motivasi seperti “Mulai hari ini saya senantiasa tadarus Alquran setiap hari dan khatam setiap bulan”.

    Menetapkan Waktu untuk Fokus Membaca Alquran

    Mengutip buku The 9 Golden Habits for Brighter Muslim tulisan Agus Sukaca (2014), akan lebih mudah apabila Anda bertadarus di waktu-waktu tertentu dengan menetapkan target. Misalnya setelah selesai shalat Tahajud membaca sepertiga juz, setelah shalat Subuh sepertiga juz, dan setelah shalat Magrib membaca sepertiga juz.

    Menurut Toni Yunanto (2019), waktu terbaik untuk memperbanyak bacaan Alquran adalah di malam hari karena seseorang dapat terbebas dari segala kesibukan. Dengan demikian hati dan pikiran hanya berfokus pada ayat-ayat suci yang ada di hadapannya.

    Membaca 1 Juz Setiap Harinya

    Mengutip Ihya Ulumiddin karya Imam Al Ghazali, para sahabat Nabi dari generasi awal Islam bisa mengkhatamkan Alquran dalam waktu satu minggu. Caranya mereka mengumpulkan surah-surah Alquran menjadi tujuh bagian.

    Saat ini karena telah jelas pembagian atas Alquran dalam bentuk kitab, maka umat Muslim dapat membaca Alquran satu juz setiap hari. Artinya selama tiga puluh hari atau satu bulan, kita bisa mengkhatamkan tiga puluh juz Alquran.

    Sumber: Kumparan.com