Author: M Rifa’i

  • Keutamaan Tadarus Al Quran di Bulan Ramadan

    Keutamaan Tadarus Al Quran di Bulan Ramadan

    Tadarus berasal dari asal kata darosa-yadrusu, yang artinya mempelajari, meneliti, menelaah, mengkaji, dan mengambil pelajaran. Lalu di tambahan huruf ta’ di depannya sehingga menjadi tadaarosa-yatadaarosu, maka maknanya bertambah menjadi saling belajar atau mempelajari secara lebih mendalam.

    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tadarus artinya membaca kitab suci al-qur’an secara bersama-sama di masjid, di musholla atau pun di rumah pada bulan ramadhan. Satu orang membaca dan yang lain menyimak. Tadarus al-qur’an adalah salah satu ibadah yang paling utama di bulan Ramadhan selain berpuasa di siang harinya dan shalat tarawih pada malamnya.

    Pada bulan Ramadhan ditekankan bagi setiap muslim yang mengharap rahmat Allah Swt dan takut akan siksa-Nya untuk memperbanyak membaca Al-Qur’anul Karim pada bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt, mengharap ridha-Nya, memperoleh keutamaan dan pahala-Nya. Karena Al-Qur’anul Karim adalah sebaik-baik kitab, yang diturunkan kepada Rasulullah termulia, untuk umat terbaik yang pernah dilahirkan kepada umat manusia dengan syari’at yang paling utama, paling mudah, paling luhur dan paling sempurna.

    Al-Qur’an diturunkan untuk dibaca oleh setiap orang muslim, direnungkan dan dipahami makna, perintah dan larangannya, kemudian diamalkan. Sehingga ia akan menjadi hujjah baginya di hadapan Tuhannya dan pemberi syafa’at baginya pada hari Kiamat.

    Sabda Rasulullah Saw :

    ”Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafa ‘at bagi pembacanya.” (HR. Muslim dari Abu Umamah)

    Dalam riwyat lain Rasulullah Saw bersabda (yang artinya) : “Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat kepada hamba di hari Kiamat, puasa akan berkata : “Wahai Rabbku, aku akan menghalanginya dari makan dan syahwat, maka berilah dia syafa’at karenaku”. Al-Qur’an pun berkata : “Aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka berilah dia syafa’at karenaku” Rasulullah Saw bersabda : “Maka keduanya akan memberi syafa’at.” (HR. Ahmad 6626, Hakim 1/554, Abu Nu’aim 8/161)

    Allah Swt juga menjamin bagi yang membaca dan mengamalkan Al-Qur’an tidak akan tersesat dan tidak akan celaka di akhirat. Firman Allah Swt.

    فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ

    ”Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thaha:123)

    Allah Swt juga akan menurunkan ketenagan dan diliputi rahmat bagi orang yang berkumpul untuk membaca Al-Qur’a, mempelajarinya dan menyebut-nyebut namanya di hadpan makhluk yang ada disisi Allah Swt.

    Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah Saw bersabda :

    “Dan tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu masjid dari masjid-masjid Allah, untuk membaca Al Qur’an dan mereka saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan diturunkan kepada mereka ketenangan, diliputi rahmat, dan dikelilingi malaikat, dan mereka akan disebut-sebut Allah dihadapan makhluq-makhluq yang ada di sisi-Nya (para malaikat).” (HR Muslim no. 2699)

    Bahkan kebajikan orang yang membaca Al-Qur’an akan dibalas 10 kali lipat setiap hurufnya. Sebagaimana di jelaskan dalam hadits Rasulullah Saw.

    Dari Ibnu Mas’ud ra, katanya: Rasulullah Saw bersabda:

    ”Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf; tetapi alif satu huruf; lam satu huruf dan mim satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi, katanya: hadits hasan shahih)

    Apalagi kita membacanya di bulan Ramadhan. Tentu kebajikan akan berlipat ganda lagi. Sebab Allah Swt akan melipat gandakan pahala setiap kebajikan di dalam bulan Ramadhan. Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda,

    “Dalam bulan biasa, pahala setiap kebajikan dilipat gandakan 10 kali lipat, namun dalam bulan Ramadhan pahala amalan wajib dilipat gandakan 70 kali lipat dan amalan yang sunah disamakan dengan pahala amalan wajib di luar Ramadhan.” (HR. Muslim)

    Salah satu contoh kita membaca Surah al-Fatihah. Jumlah ayatnya adalah tujuh ayat berdasarkan ijmak para ulama. Jumlah hurufnya adalah 156 huruf. Diluar Ramadhan kita membaca Al-Qur’an akan mendapatkan balasan 156 x 10= 1560. Tentu di bulan Ramadhan akan dilipat gandakan lagi.

    Begitu juga kalau sempat khatam Al-Qur’an sekali, dua kali atau lebih dlam bulan Ramadhan. Tentu akan lebih banyak lagi kebajikan yang akan kita dapatkan. Sebab Al-Quran, jumlah hurufnya ada 321.180 huruf. (Tafsir Ibn Katsir, 1/98).

    Diluar Ramadhan kita mengkhatamkan Al-Qur’an akan mendapatkan kebajikan sebanyak 321.180 x 10 = 3.211.800. Tentu akan berlipat ganda lagi apabila khatam Al-Qur’an itu di bulan Ramadhan.

    Tentunya akan lebih baik lagi, apabila kita tadarus Al-Qur’an yang sebenarnya. Bukan hanya sekedar membaca, tetapi mempelajarinya secara mendalam dan mengamalkannya.

    Firman Allah Swt.

    يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

    “Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Ma’idah: 16)

    Sahabat bacaan madani yang dirahmati Allah Swt. Suatu hal yang istimewa bagi umat Nabi Muhammad Saw ada satu anugerah yang sangat besar dan tidak diberikan kepada umat sebelumnya- yaitu berupa anugerah satu bulan (Ramadhan) yang di dalamnya banyak keistimewaan dibandingkan dengan bulan lainnya. Bahkan Rasulullah Saw. Menyampaikan bahwa “Jika umatku tahu nilai yang ada dalam bulan Ramadhan, maka pasti mereka berharap seluruh bulan menjadi bulan Ramadhan.”

  • Ustadz Tengku Zulkarnain: MA Khidmat Pada Umat Islam dan Rakyat Indonesia Tanpa Pamrih

    Ustadz Tengku Zulkarnain: MA Khidmat Pada Umat Islam dan Rakyat Indonesia Tanpa Pamrih

    Jakarta, Mathlaonline–Kurang dari 1 bulan lagi, Mathla’ul Anwar akan menyelenggarakan Muktamar XX nya di tengah Pandemi Covid-19.

    Konsolidasi akbar yang salah satu agendanya adalah pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Mathla’ul Anwar untuk periode 5 tahun yang akan datang.

    Muktamar XX Mathlaul Anwar akan dilangsungkan 1-3 April 2021 mendatang di Grand Cempaka Resort & Convention, Megamendung, Kabupaten Bogor.

    Muktamar disambut riuh oleh kader – kader Mathla’ul Anwar di seluruh daerah di Indonesia, tak terkecuali aktivis dakwah Indonesia, Ustadz Tengku Zulkarnain.

    Sebagai Wakil Ketua Majelis Fatwa PB Mathla’ul Anwar, Ustadz Tengku merasa punya kewajiban moral untuk menyukseskan jalannya Muktamar.

    Pada redaksi mathlaulanwar.or.id, seraya mengharap Ridha Allah SWT, Ustadz Tengku menuturkan bahwa pada Muktamar ke XX ini para muktamirin harus bisa memformulasikan kerangka kerja yang efektif dan hasil – hasil terbaiknya.

    Bergabung sejak usia remaja dengan Mathla’ul Anwar, Ustadz Tengku merasa bahwa MA memberikan suatu catatan penting baginya.

    “Di Mathla’ul Anwar saya bernaung sejak usia remaja. Memberikan gaya pemahaman Islam yang lurus tapi tegas, tidak memanfaatkan dan minta jabatan pada penguasa,” kata Ustadz Tengku yang juga Wakil Sekjen MUI Pusat 2015 – 2020.

    Mathla’ul Anwar yang berdiri di Menes, Pandeglang tahun 1916 memiliki komitmen kuat terhadap keutuhan bangsa dan pencerdasan umat.

    “MA sejak berdirinya berkomitmen menjaga NKRI dengan pemahaman Islam Ahlussunnah wal Jama’ah yang ketat melalui dakwah, pendidikan, sosial, dan ibadah serta khidmat pada umat Islam dan rakyat Indonesia tanpa pamrih,” tuturnya.

    Sikap itu yang kami warisi dan dapatkan dari para sesepuh Mathla’ul Anwar terdahulu. Semoga ke depan dapat ditiru dan dikembangkan lebih baik lagi oleh putera – puteri kader penerus perjuangan Mathla’ul Anwar, harapnya. (Fr)

  • Mengenang K.H Irsjad Djuwaeli: Sikap Kenegaraan dan Ke-Islam-an Indonesia

    Mengenang K.H Irsjad Djuwaeli: Sikap Kenegaraan dan Ke-Islam-an Indonesia

    Mathlaulanwar.or.id,- KH Irsjad Djuwaeli, gerak dan aliran pemikiran keagamaan dalam bernegara. Tokoh ulama pendiri sejumlah pesantren dan politisi asal Banten ini, baru saja meninggalkan kita (6 Januari 2021). Beliau, almarhum, belakangan ini kerap muncul dalam ruang publik, termasuk pada ormas Mathlaul Anwar. Dalam beberapa sambutan segarnya, beliau sering mengutarakan sikapnya tentang hubungan baik antara Islam & negara di Indonesia.

    Pandangannya tertuju pada komitmen berbangsa. Pancasila adalah pemersatu antara keduanya. Dengan Pancasila, tidak ada sekularisasi antara Islam & Negara di Indonesia. Kita sebagai warga bangsa, harus menjadi bagian dari membangun bangsa.

    Sikap kebangsaannya itu, diwujudkan dengan ambil bagian dalam proses kepemimpinan nasional. Media online memberitakan tentang kedekatan beliau dengan KH Maruf Amin, mantan ketua MUI kini Wapres RI. Beliau pun terbuka untuk berbeda pikiran dan sikap dalam proses kepemimpinan nasional, termasuk saat perhelatan capres & cawapres.

    Pola pemikirannya dapat kita rujuk pada referensi pemetaan antara pemikiran Abu Ala al-Maududi, Syeikh Ali Abd. Rajik, dan Fazlurrahman. Dari tiga tokoh ini, pola hubungan Islam dan negara masih menjadi perbincangan dalam pemikiran Islam. Setidaknya ada tiga pola hubungan agama dan negara ini, yakni: fundamentalisme, sekularisme, substansialisme.

    Pola fundamentalisme mengangkat ide kesatuan Islam dan negara. Islam adalah nilai tertinggi dari Ilahi, dan perlu ruang untuk pengamalannya yang disebut negara. Islam & negara berada secara bersamaan, dan seiring sejalan.

    Dalam pola sekularisme, memandang perlunya pemisahan secara mutlak antara Islam dan Negara. Islam adalah konsep yang pasti, sedangkan negara bisa nisbi, dinamis seiring penataannya di jaman yang menuntut perubahan penyesuaian kekinian. Teks Islam dipandangnya harus netral dalam bersentuhan dengan politik.

    Dan yang terakhir pola substansialisme. Pada pola ini nilai-nilai religius masuk dalam sistem kenegaraan. Agama pada area keyakinan dan pengamalan ibadah ritual serta sosial berada pada instrumen negara. Secara substantif, agama menjadi bagian yang mendasari dan mewarnai kehidupan bernegara.

    Ketiga pola hubungan Islam dan negara ini, masing-masing memiliki alasan logik. Namun demikian perdebatan ketiganya pun cukup tajam. Bermula dari ranah pemikiran, merunut pada sistem pendidikan yang panjang dan kaderisasi gerakan yang nampak berbeda. Masing-masing pola ini sering muncul dalam ruang publik yang terkesan bersebrangan bahkan berbentrokan

    Kita tidak masuk pada jargon meng-Islam-kan negara, atau menegarakan Islam. Harmoni Islam dalam Pancasila adalah unik, spesifik dan khas Islam rahmatallilalamin ke-Indonesia-an. Umat Islam adalah warga di Republik ini. Umat Islam pun pejuang dan pendiri dari republik ini.

    epublik Indonesia diperjuangkan dan dibangun bersama oleh kebinekaan Indonesia. Karenanya dalam membangun bangsa ini, umat Islam harus ambil bagian. Umat ​​Islam sesuai dengan kedekatan relasional di tingkat pemerintahan, harus berupa menjadi mitra pembangunan. Bersama pemerintahan di tingkat pusat, provinsi, kabupaten / kota, kecamatan, desa, RW, RT, umat Islam harus berupaya untuk berkhitmat pada pemimpin. Sinergi ulama dan umara, serta semua elemen bangsa menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam membangun Indonesia.

    Demikian paparan singkat ini, semoga mendapat inspirasi tentang bagaimana memberi makna & nilai dalam kehidupan berbangsa & bernegara. Kita sebagai umat Islam berkewajiban melakukan amal sholih. Dan untuk ini perlu penataan pemikiran termasuk dalam kehidupan sebagai warga bangsa di Indonesia.