Category: Berita

  • AS menyalahkan Rusia atas jatuhnya pesawat tak berawak di Laut Hitam, Moskow menyangkal

    AS menyalahkan Rusia atas jatuhnya pesawat tak berawak di Laut Hitam, Moskow menyangkal

    Pentagon menyalahkan spurt tempur Rusia atas jatuhnya pesawat mata-mata AS ke Laut Hitam pada Selasa, sementara Moskow membantah adanya tabrakan karena pertemuan itu menunjukkan meningkatnya risiko konfrontasi langsung antara Rusia dan Amerika Serikat karena perang Ukraina.

    Dua spurt Su- 27 Rusia melakukan apa yang oleh militer AS digambarkan sebagai pencegatan sembrono terhadap drone MQ- 9″ Reaper” di wilayah udara internasional sebelum salah satu dari mereka bertabrakan dengannya pada pukul 703 pagi( 0603 GMT), menyebabkan drone itu jatuh. menabrak laut.

    Beberapa kali sebelum tabrakan, spurt tempur Rusia membuang bahan bakar ke MQ- 9, mungkin mencoba membutakan atau merusaknya, dan terbang di depan drone tak berawak itu dalam manuver yang tidak aman, kata militer AS.

  • Mathla’ul Anwar Global School Undang Konsultan Pendidikan dari Singapura

    Mathla’ul Anwar Global School Undang Konsultan Pendidikan dari Singapura

    Mathla’ul Anwar Global School sukses menyelenggarakan kegiatan Language and Literacy Workshop yang diikuti oleh seluruh Dewan Guru MAGS level Primary dan Secondary dan Guru Bahasa Inggris di lingkungan Perguruan Mathla’ul Anwar Pusat Menes, dengan menghadirkan Konsultan Pendidikan dari Singapura, Ummi Hadijah Abu Bakar, yang didampingi oleh Ustadzah Alus Rahdiana, Guru Mathla’ul Anwar yang menetap di Singapura.

    Mathla’ul Anwar Global School adalah sekolah pertama berbasis Internasional, yang didirikan 11 tahun yang lalu, oleh Perguruan Mathla’ul Anwar Pusat Menes bekerjasama dengan Al-Irsyad Singapura.

    Kegiatan Workshop ini berlangsung selama 2 (dua) hari, dari tanggal 28 Feb – 1 Maret 2023 di Komplek MAGS Menes, Pandeglang.

    Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi building capacity dan memberikan metode serta strategi terbaru kepada para Guru dalam melaksanakan learning process (proses Belajar Mengajar) di lingkungan Sekolah/Madrasah. Selain itu, narasumber juga menyampaikan strategi dalam menciptakan english environment (lingkungan berbahasa Inggris) di MAGS.

    Menurut Ummi Hadijah, “Sekolah Global adalah ketika Guru dan peserta didik memulai berpikir secara global, dan label global itu berangkat dari hati dan pemikiran (mindset) yang mendunia,” katanya.

    “Kita sebagai guru harus memulai melakukan metode dan strategi ini melalui personal touch kepada anak didik kita di dalam kelas maupun di lingkungan sekolah, untuk pembentukan karakter yang Islami”, tuturnya.

    Mr. Dodi Solahudin, sebagai Tim Pengembang Perguruan MA, berharap bahwa kegiatan ini dapat menjadi kekuatan atau angin segar agar seluruh pendidik dan siswa di MAGS dan juga sekolah/madrasah di Perguruan MA Pusat, mulai menerapkan english environment.

    Mrs. Ade Susan, salah satu peserta workshop dari Primary MAGS, menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat dalam meningkatkan kualitas MAGS ke depan.

    “Saya berharap akan ada lagi kunjungan- kunjungan berikutnya dari Ummi Hadijah atau dari narasumber Internasional lainnya, sehingga kami dapat terus menggali potensi yang ada di MAGS,” ujarnya.

    Menurut Principal Secondary, Muh. Chusnul Mubaroq, upgrading ini memiliki nilai yang sangat penting bagi Guru untuk dapat meningkatkan teaching skill dan kepercayaan diri sehingga mampu menghasilkan Proses Belajar Mengajar (PBM) yg komprehensif bagi peserta didik.

    “Harapannya, Guru mampu melakukan tugas lebih maksimal, sehingga dapat meningkatkan intelegensi, mengembangkan kreativitas dan menyempurnakan akhlak bagi para siswa,” pungkasnya.

  • PB Mathla’ul Anwar Kutuk Keras Ekstrimis Pembakar Al – Qur’an Rasmus Paludan

    PB Mathla’ul Anwar Kutuk Keras Ekstrimis Pembakar Al – Qur’an Rasmus Paludan

    Rasmus Paludan, ekstrimis kanan kewarganegaraan Denmark – Swedia telah melukai hati umat Muslim dunia dengan melakukan aksi pembakaran Al – Qur’an di Swedia pada 21 Januari 2023.

    Jumat lalu, 27 Januari 2023 Rasmus Paludan melakukan aksi yang sama, membakar Al Quran di luar sebuah masjid di Kopenhagen.

    Ia berjanji akan membakar Al Quran setiap hari Jumat hingga Swedia diterima menjadi anggota NATO.

    Ketua Umum Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PBMA) KH Embay Mulya Syarief mengutuk keras aksi pembakaran salinan Al-Quran oleh ekstremis Rasmus Paludan.

    Kyai Embay menilai bahwa aksi Rasmus sangat menyakitkan bagi jutaan Muslim di seluruh belahan dunia.

    “Aksi Rasmus ini sangat melukai hati umat Muslim dunia, kami Mathla’ul Anwar mengutuk keras aksi Rasmus Paludan,” katanya.

    Aksi pembakaran kitab suci umat Islam itu tidak dibenarkan atas dalih kebebasan berkespresi, lanjutnya.

    Mathla’ul Anwar kata Embay mendorong agar pelaku ditindak tegas dan Pemerintah Swedia harus memiliki itikad baik dalam lawan Islamofobia.

    “Pemerintah Swedia harus tegas dalam kasus pembakaran Al-Qur’an ini. Jangan sampai aksi ini membawa relasi antar pemeluk agama terganggu,” pesan Kyai Embay

  • SEKJEN PBMA: RESOLUSI KONFLIK DALAM PERSPEKTIF ISLAM

    SEKJEN PBMA: RESOLUSI KONFLIK DALAM PERSPEKTIF ISLAM

    Fenomena belakangan ini, terlebih menghadapi, Pemilihan Umum tahun 2024, potensi munculnya konflik di tengah masyarakat makin besar. Ormas Mathla’ul Anwar yang lahir tahun 1916 di Menes Pandeglang, sangat  miris dan prihatin.

    “Sebagai organisasi keagamaan yang berpegang pada paham ahlus sunnah waljama’ah dan berprinsip pada Islam rahmatan lil’alamin, akan terus berupaya dan berjuang menciptakan kedamaian dan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara berideologi Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indoneisa, serta Bhineka Tunggal Ika,” hal itu diungkapkan oleh Sekretaris Jendral Pengurus Besar Mathla’ul Anwar, Dr. H. Jihaduddin, M.Pd, di depan para awak media.

    Sesungguhnya, tegas Jihaduddin, konflik sulit untuk ditiadakan, karena memang sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Secara historis, konflik manusia telah dimulai sejak anak cucu Adam, ketika Qabil dan Habil bertengkar memperebutkan calon istri. Dalam ilmu social, konflik disebabkan karena adanya ketidakharmonisan.

    Hal itu muncul akibat polarisasi yang senantiasa terjadi di dalam masyarakat yang menimbulkan ketidakpercayaan dan permusuhan. Banyak factor penyebab konflik, diantaranya akibat dari perebutan atas sumber-sumber kepemilikan, status sosial, dan kekuasaan yang jumlahnya sangat terbatas dan tidak merata dalam masyarakat.

    Begitu juga konflik bisa disebabkan oleh adanya benturan antar-kepentingan dan perubahan sosial. Konflik juga bermuara dari berbagai perbedaan, seperti perbedaan persepsi, agama, adat istiadat, organisasi, partai politik, pengetahuan, tata nilai, serta kepentingan. Kebutuhan dasar manusia, baik fisik, psikologis, dan sosial yang tidak terpenuhi atau dihalangi akan menjadi akar yang mendasar sebagai pemicu timbulnya konflik. Keberagaman kepentingan dalam kehidupan manusia juga akan membuka peluang untuk terjadinya konflik. Tidak jarang konflik yang tidak dikelola dengan baik dapat berujung pada tindakan kekerasan.

    Menurut Jihaduddin, upaya yang dapat dilakukan, ialah menyelesaikan konflik tersebut. Salah satu upaya penyelesaian konflik adalah melalui pendekatan resolusi konflik. Ada beberapa model resolusi konflik, baik itu berupa mediasi, negosiasi, arbitrasi, dan lain-lain. Penyelesaian konflik yang berbasis kearifan lokal juga bisa menjadi alternatif di beberapa daerah.

    “Karena itu, tugas kita (Mathla’ul Anwar), adalah terus berupaya meminimalisir dan bahkan mencegah agar konflik itu tidak mengarah pada perpecahan, mengganggu kesatuan dan persatuan, apalagi mengarah pada tindakan radikalisme dan anarkisme,” lanjutnya.

    Kemudian yang menjadi pertanyaannya ialah, apakah agama mampu menyelesaikan konflik. Apakah agama mampu menjadi perekat sosial atau sebaliknya sebagai faktor atau sumber pencipta konflik. Menurut, Jihaduddin, semuanya tergantung pada sikap dan cara pandang pemeluknya terhadap agama.

    “Kesadaran akan pentingnya pluralisme, kerukunan, keharmonisan dan adanya struktur sosial yang fair dalam mengekspresikan keyakinan, baik intra maupun antar agama akan mampu mewujudkan agama sebagai salah satu perekat social dalam artian yang luas. Sementara yang bersendikan pada sikap claim yang radikal dan fundamentalistik akan lebih sering memunculkan agama sebagai faktor penyebab konflik,” kata Jihad yang juga Warek I UNMA Banten itu.

    Dalam al-Quran sendiri, lanjut Jihaduddin, sebagai sumber doktrin Islam, dikatakan bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin (Q.S. al-Anbiya’: 107), dan memberikan jaminan kebebasan dalam beragama /berkeyakinan (Q.S. al-Baqarah: 256). Al-Quran justeru menawarkan spirit dalam menginspirasi dan memotivasi untuk mewujudkan resolusi konflik menuju perdamaian.

    “Pertama, melakukan al-tabayun (klarifikasi). Kedua, Musyawarah (wasyawirhum fil amri) dilaksanakan apabila ada permasalahan atau urusan-urusan muamalah yang tidak ditentukan oleh nash yang jelas. Adanya perdebatan, lebih menunjukan sebagai upaya untuk meyakinkan pihak lain dan mungkin hanya memahami saja. Namun, sebagai mekanisme merupakan upaya menemukan jalan keluar yang terbaik dalam satu urusan,” ujarnya.

    Islam memandang setiap permasalahan didasarkan atas asas perdamaian. Islam tidak menghendaki adanya permusuhan. Konsep perdamaian harus disusun dengan sungguh-sungguh, dan berkeadilan. Misalnya Islam sangat menghargai kaum dzimni yang terikat dengan perjanjian dengan kaum Muslimin dengan memelihara hak muamalahnya dengan hak kaum muslimin.

    Peristiwa perdamaian yang tercatat dalam sejarah adalah ketika perjanjian hudaibiyyah. Diriwayatkan daripada Ummu Kasum binti Uqbah RA katanya: Sesungguhnya beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda: Bukanlah dikira sebagai pendusta jika seseorang mendamaikan perselisihan diantara manusia. Beliau berkata yang baik dan menyampaikan yang baik pula. Dari sini bisa dipahami bahwasannya Islam merupakan agama yang menebarkan perdamaian.

    “Sebagai agama yang damai (as-Salâm), Islam mengajarkan budi pekerti yang mulia, adil, jujur, amanah, kasih sayang, sopan santun, lemah lembut, dan sifat-sifat terpuji lainnya,” kata Jihad.

    Bahkan Rasulullah mengatakan bahwa, “Bukanlah seorang mukmin orang yang suka mencela, orang yang gemar melaknat, orang yang suka berkata keji dan orang yang berkata kotor. Islam menempatkan akhlaq sebagai tolok ukur dari iman dan Islam seseorang. Islam senantiasa mengajak manusia pada kejernihan pikiran dan kebersihan hati. Islam melarang  umatnya untuk berdusta, dendam, ghibah, fitnah, adu domba, membunuh dan sifat tercela lainnya.

    Sebagai agama yang raḥmatan lil‟âlamḭn, Islam memiliki nilai-nilai dan spirit dalam konsep ajarannya, baik yang bersumber dari al-Qur’an maupun al-Hadits). Semangat al-Qur‟an adalah moral, dengan semangat moral inilah lahir ide tentang keadilan, baik social, ekonomi dan sebagainya. Kesan utama yang ditinggalkan al-Quran ialah suatu kehendak yang terpadu dan terarah yang menciptakan ketertiban di alam semesta. Hal ini selaras dengan tujuan penciptaan manusia sebagai khalḭfah fil arḍ, sebagai wakil Tuhan di muka bumi untuk menebarkan kasih sekaligus sebagai aktor perdamaian.

    Kontributor: Faiz Romzi Ahmad

  • Ketua Umum PBMA Apresiasi Presiden Jokowi, Sukses Gelar KTT G20

    Ketua Umum PBMA Apresiasi Presiden Jokowi, Sukses Gelar KTT G20

    Ketua Umum Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PBMA) KH Embay Mulya Syarief mengapresiasi Presiden Jokowi yang telah sukses menyelenggarakan KTT G20 di Bali pada 15-16 November.

    “KTT G20 di Bali kemarin berjalan lancar dan mengharumkan nama Indonesia di kancah global,” katanya saat dimintai keterangan. Sabtu (19/11/22).

    Kyai Embay juga mengapresiasi kesiapsiagaan Polri, TNI, hingga Badan Intelijen Negara (BIN) untuk memastikan kemacetan kegiatan KTT G20 berlangsung dengan aman.

    “Saya juga memberikan apresiasi kepada aparat penegak hukum dalam hal ini kepolisian, pihak TNI, pihak Badan Intelijen Negara juga yang sudah bekerja keras selama ini menyukseskan G20 tanpa terjadi satu hal yang tidak kita inginkan,” sampainya.

    Embay berharap kerja sama oleh berbagai pihak dalam menyukseskan perhelatan serupa G20 perlu terus ditingkatkan.

    Sebagai salah satu ormas Islam di Indonesia, ia menyampaikan bahwa Mathla’ul Anwar terlibat dalam rangkaian kegiatan G20 Indonesia.

    “Mathla’ul Anwar ikut mensukseskan Presidensi G20 Indonesia, yakni dengan terlibatnya MA dalam gelaran Agama 20 di Bali,” ucapnya.

    R20 atau Religion of Twenty 2022 adalah forum para pemimpin agama-agama dan sekte-sekte dengan peserta utama dari negara-negara anggota G20 dengan memanfaatkan posisi presidensi Indonesia tahun ini.

    Meski demikian, R20 juga mengundang para pemimpin agama dari negara lain di luar G20 sehingga total ada 32 negara.

    Seperti diketahui, Indonesia telah sukses menyelenggarakan KTT G20 di Bali.

    KTT G20 berhasil mengesahkan pernyataan para pemimpin atau pemimpin deklarasi yang berisi 52 paragraf melingkupi tiga isu prioritas Presidensi Indonesia.

    Presidensi G20 Indonesia mengangkat tema Recover Together, Recover Stronger dengan tiga isu prioritas, yakni arsitektur kesehatan, transisi energi berkelanjutan, dan transformasi digital. Indonesia telah menjadi Presidensi G20 setelah menerima Troika Italia pada 2021.

  • Sekjen PBMA Hadiri Forum R20 di Bali

    Sekjen PBMA Hadiri Forum R20 di Bali

    Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Mathla’ul Anwar Drr H Jihaduddin MPd menghadiri Forum Agama G20 atau Religion Twenty (R20) di Hotel Grand Hyatt, Nusa Dua Bali, Rabu (2/11/22).

    Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan nomor Menteri Kabinet Indonesia Maju Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga terlihat menghadiri pembukaan R20 itu.

    Anggota kabinet Jokowi yang hadir antara lain: Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Prof Mahfud MD, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Prof Muhadjir Effendi, Menteri Agama H Yaqut Cholil Qoumas, Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Tohir.

    Forum R20 diinisiasi oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf dan didukung oleh Liga Muslim Dunia atau Muslim World League (MWL). Sekretaris Jenderal MWL Syekh Mohammed Al-Issa juga turut hadir.

    sejumlah delegasi dari beberapa negara juga turut serta, antara lain Shri Ram Madhav Varansi, Mantan Sekretaris Jenderal BJP dan India Foundation; Andreas Pastrana Arango, Mantan Presiden Kolombia.

    Selama dua hari mulai Rabu 2 November sampai Kamis besok sebanyak kurang lebih 400 delegasi dari dalam dan luar negeri akan berkreasi di Bali.

    Mereka adalah para pemimpin agama, sekte, dan aliran kepercayaan dari berbagai negara dengan jutaan pengikut itu akan mendiskusikan sejumlah persoalan di dunia yang dilatari agama.

    Dalam sambutannya Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengaku gembira dengan kehadiran para delegasi dari berbagai negara di Forum R20.

    Menurut Gus Yahya, Forum Agama G20 atau R20 merupakan inisiatif yang tulus dan kemauan spiritual yang baik dari orang-orang beragama dari kepedulian yang lebih tulus dari semua pemeluk agama tentang masa depan umat manusia.

    Ketua Umum Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PBMA) KH Embay Mulya Syarief mendukung terselenggaranya Forum Religion (R20) untuk menciptakan tatanan dunia yang harmonis.

    Jadi agama harus digunakan secara baik, kontribusi agama terhadap kehidupan manusia dalam berbagai hal diawali dengan kolaborasi lalu toleransi yang dalam kerjasama antar umat beragama yang konkrit, katanya.

    Karena sejatinya semua umat manusia ini adalah anak keturunan Nabi Adam yang tidak seharusnya mengalami masalah yang sama. Sambung Kyai Embay.

    Sementara itu, Sekjen PBMA Jihaduddin yang turut hadir dan menjadi delegasi Mathla’ul Anwar dalam kegiatan pembukaan R20 di Bali mengatakan dirinya mendukung konferensi R20 yang merupakan forum pertemuan tokoh-tokoh agama dunia.

    Jihaduddin menyampaikan bahwa Konferensi R20 dapat membawa solusi bagi perdamaian dunia.

    “Agama itu berfungsi sebagai solusi yang sejati dan dinamis, bukan sebagai sumber masalah” katanya.

  • Selamat Jalan Wahai Panutan

    Selamat Jalan Wahai Panutan

    Kesaksian Agus Nurcholis Saleh

    Di suatu pagi, di kampus Universitas Mathla’ul Anwar. Waktu menunjukkan pukul 07:30 WIB. Seorang tua duduk menyendiri di meja, di depan kelas. Hamba memperhatikan dari kejauhan, tak ada seorang pun selain dirinya. Hamba ikut penasaran, sedang apa beliau di sana. Menunggu dan menunggu.

    Sekira lima belas menit kemudian, ia pun keluar dari kelas. Seraya bersalaman, beliau mengatakan, “Kamarana nya… barudak kiwari…” Ternyata beliau sedang menunaikan tugas. Ada jadwal mata kuliah di Fakultas Agama.

    Si mahasiswa harusnya bahagia dan bangga, tapi mereka tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa.
    Semua yang kenal beliau pasti tahu. Jika berjanji ketemu di waktu tertentu, maka 30 menit sebelumnya pasti sudah standby di tempat yang dijanjikan.

    Beliau tidak mau membuang waktu untuk sesuatu yang sia-sia. Adapun si mahasiswa, andaikan mereka tahu, hal itu pula yang akhirnya “mengakhiri” tugas beliau di Fakultas Agama.
    Waktu itu laksana pedang. Suatu pernyataan yang se-Mathla’ul Anwar tahu. Seluruh muslim sedunia telah mengetahui.

    Tapi dari pengetahuan itu, banyak manusia yang disabet pedang waktu karena mengalami kemacetan. Banyak manusia yang enggan transfer ilmu menjadi perilaku. Adapun beliau, sekali diucapkan maka akan diikuti dengan kenyataan.

    Oleh karena itu, Fakultas Agama sangat kehilangan. Teladan beliau tidak bisa mewarnai dan menjadi cermin di kehidupan nyata. Kehilangan itu semakin terasa oleh Mathla’ul Anwar saat pukul 19.51 WIB pihak keluarga menyampaikan berita. Allah telah memanggil pulang. Tugas dan rejeki beliau di dunia berakhir pada 5 Dzulhijjah 1442.

    Hamba sangat beruntung pernah mendapatkan kesempatan untuk menerima curahan ilmu dari beliau. Hamba diberi kunci oleh beliau untuk suksesnya tugas kehidupan di dunia. Hal itu pula telah ditegaskan oleh Allah dalam Alquran, “Aku kecualikan orang-orang ikhlas untuk tidak disentuh dan didekati oleh setan.”

    Itulah yang menjadi kunci keberhasilan akselerasi dan penetrasi Mathla’ul Anwar di masa dahulu. Asatidz pada zaman itu adalah para mujahhid. Mereka tidak berpikir apa-apa tentang melakukan sesuatu untuk mendapatkan apa. Insentif atau gaji adalah konsekuensi logis atas ‘amal, tapi hal itu tidak boleh diteriakkan di awalan. Tabu dan “haram”.

    Allah telah berjanji. Siapa menanam, dialah yang akan memetik hasil atas perjuangan. Semua orang boleh mengumumkan. Tapi menyembunyikan adalah sebuah kekhususan. Allah sangat menyukai hamba-Nya yang memiliki rahasia. Allah sangat mencintai manusia yang hanya curhat (bercerita) pada-Nya, tidak pada selain-Nya.

    Hari ini, banyak sekali manusia yang berpendidikan tinggi. Tapi ketinggian pendidikan itu hanya pada level administrasi. Adapun secara substansi, keikhlasan menjadi kunci. Jika ilmu telah diperjualbelikan, maka ilmu itu tidak mampu mendudukkan. Jabatan yang diduduki oleh manusia tak beda dengan fatamorgana.

    Almarhum merasa khawatir dan takut, jika keikhlasan itu telah ditanggalkan, maka keimanan telah ditukar dengan was-was, buta, dan keraguan. Ketiganya merupakan siksaan. Andai jalan di depan tidak terlihat, sang sopir menjadi stress dan dipenuhi kemarahan.

    Sedangkan di akhirat, kepedihan dan kepedihan akan saling bergantian.
    Berhati-hatilah dengan pamrih dan pencitraan. Sedikit-sedikit melaporkan.

    Allah pun dibuat “cemburu”, karena laporan itu bukan disampaikan kepada Allah, tapi kepada mereka-mereka yang gemerlapan hidup di dunia fana. Jika tidak ada yang memperhatikan, hasilnya adalah kekecewaan.

    Dunia pendidikan adalah yang dikhawatirkan almarhum, karena inti dari pendidikan adalah ilmu. Madrasah semakin semarak. Bangunannya telah berbeda. Dibantu pula oleh teknologi. Tapi ironi, kenapa pekertinya tidak membumi? Jarang sekali menemukan air mata haru karena akhlak para manusia.

    Sebaliknya, dunia ini gelap gulita.
    “Menjadi guru itu harus ikhlas.” Kalau selalu perhitungan, segera mundur dari guru. Digugu itu segala ucapannya cep-nyes, dan peserta didik langsung beraksi mewujudkan pengetahuannya. Para murid tidak membeda-bedakan sikap dan perilakunya, baik ketika di depan maupun saat di belakang. Everything is genuine.

    Almarhum membuktikan orisinalitas itu saat bertakziah. Beliau bukan petugas atau mengalir sebagai pelaksana upacara. Tapi ketika beliau mengetahui ada tetangga atau sanak saudara yang meninggal dunia, maka tak perlu waktu lama bagi beliau untuk meng’agung’kan (takziah) almarhum, baik secara ucapan, secara perasaan, maupun secara bantuan.

    Takziah adalah tahadduts bi al-nikmat. Ada petugas yang secara khusus mempromosikan almarhum selama hidupnya di dunia. Tentu, promosi itu berkaitan dengan konsistennya almarhum dalam melaksanakan amar ma’ruf nahyi munkar. Peserta takziah harus mendapatkan ilmu dan pengalaman tentang bagaimana nikmatnya bersama Allah.

    Takziah adalah tadzkiroh. Manusia boleh tidak percaya kepada Allah. Apalagi bagi mereka yang tidak mahir dalam kegaiban. Tapi adakah manusia yang tidak yakin kepada kematian? Setiap hari ada saja peristiwa kematian. Allah memanggil mereka pulang. Di masa covid ini, frekuensi kematian terasa meningkat tajam.

    Setiap peristiwa kematian adalah peringatan. Tidak hanya kepada mereka yang melupakan, tapi juga kepada mereka yang meyakini jalan pulang. Dunia adalah tempat persinggahan. Sementara saja. Tempat dimana manusia menguji kesempurnaan, dimana setiap hari adalah ujian kecerdasan dan kesadaran. Jangan kebablasan.

    Kematian adalah sebuah kepastian. Kematian adalah jalan. Kematian adalah terminal, sebelum sampai di tujuan yang sesungguhnya. Oleh karena itu, kematian adalah hal biasa. Bagi muslim sejati, kematian adalah kehidupan. Tidak perlu kesedihan. Justru yang seharusnya dipromosikan adalah tentang kebahagiaan. Sebentar lagi berpindah ke surga.

    Takziah adalah satu titik menuju surga. Oleh karena itu, setan harus dijauhkan dari syariat takziah. Mereka cukup berkerumun saja, tidak sampai menjadi aktor dalam peringatan. Takziah harus menjadi bagian dari sistem jariyah: apakah menjadi anak yang soleh, apakah pengabdian dalam harta, ataukah menjadi ‘amal atas ilmu.

    Jika bukan hal di atas yang dilakukan, maka substansi takziah telah resmi bergeser menjadi upacara. Bagi orang berada (kaya), hal itu tidak menjadi masalah. Bagi orang miskin/dhu’afa, kewajiban berupacara adalah beban dan berhutang, “Sudah jatuh tertimpa tangga.”

    Sedangkan dalam syari’at, miskin dan kaya adalah ujian keimanan.
    Bersyukurlah sebagai kaya, dengan mengembalikan semua titipan kepada yang berhak menerima. Kekayaan adalah titipan dari-Nya, maka segeralah dikembalikan lagi pada-Nya.

    Sebaliknya, berbanggalah menjadi orang “miskin” karena tidak banyak yang harus dipertanggungjawabkan. Indikator miskin dan kaya adalah iman, amal, dan cara.

    Di dunia, kita harus mempersembahkan karya. 24 jam adalah kesempatan. Habil dan Qabil telah mencontohkan. Bahkan, manusia diberi pelajaran untuk konflik dan cara menguburkan. Untuk sesuatu yang terbaik, kenapa persembahannya terbalik? Iman, amal, dan cara adalah satu kesatuan. Ketiganya harus relevan/sejalan dan tidak bisa dipisahkan.

    Pada kenyataan dunia, manusia selalu perhitungan. Jika ada udang, maka tak masalah terlempar batu. Jika surga adalah tujuan, kenapa manusia tidak mampu menghitung berapa harga surga? Justru, Allah telah membeli manusia dengan surga. Namun, hanya sedikit manusia yang menyadari hakikat hidupnya.

    Hamba meyakini bahwa Almarhum adalah bagian dari yang sedikit itu. Beliau tidak hanya dikenal di titik kediaman, tapi menyebar di semesta alam. Allah yang mengizinkan. Hamba pun mengenal beliau dari kejauhan. Hamba tertarik karena ada harum dan mewangi. Hanya dua jam saja berhadap-hadapan. Tapi hamba mendapatkan rahasia kesejatian.

    Di beberapa pelosok Pandeglang, nama beliau selalu disebutkan. “Ngan pa Bai doang nu rajin ka dieu mah.” Dengan tidak mengurangi hormat kepada tokoh yang lain, nama beliau begitu terkenang. Beliau begitu dirindukan. Sampai wafat menjelang, taklim bersama beliau selalu melahirkan sebuah kesan.

    Selamat jalan wahai panutan. Begitu banyak yang kehilangan. Andai hamba diizinkan untuk menjadi saksi, maka Engkau berhak mendapatkan bukti, bahwa janji Allah itu haq, bahwa Allah tidak akan lupa apa yang dikerjakan hamba-Nya di dunia, bahwa Dia akan membalas perjuangan hamba-Nya dengan kenikmatan tiada tara.

    Kematian adalah jodohnya kehidupan, sebagaimana kesedihan untuk kegembiraan. Allah telah memanggil beliau untuk pulang. Kesempatan di dunia telah berakhir. Allah pasti telah menyediakan. Oleh karena itu, tidak sedikit pun hamba merasakan sedih. Sebaliknya, hamba mengiringi kepergian itu dengan do’a dan titip salam.

    Hamba bersyukur bisa ada sedikit kesempatan untuk bertatap muka, berdiskusi, dan menerima luasnya pengetahuan yang dititipkan padanya.

    Jika hamba merasa bahagia, semoga keluarga yang ditinggalkan pun di level kebahagiaan yang sama. Mari bersama-sama kita antar beliau menuju Surga. Itulah hak beliau atas realisasi kewajibannya di dunia.

    Allah telah menciptakan. Allah telah mempercayakan. Allah menyiapkan bekal kehidupan. Allah telah menetapkan ukuran (qadar) dan skenario kehidupan. Ketika saatnya pulang, maka pulanglah dalam kedamaian. Ketika dilahirkan ke dunia secara sempurna, mari kembali kepada-Nya dalam kesempurnaan.

    Andai seorang hamba telah selesai di dunia, mari kita bantu untuk mensucikan. Makna dari memandikan adalah mensucikan. Kenapa harus “dibungkus” dengan kain putih, itulah simbol kesucian. Sebelum dikuburkan, mayyit pun dishalatkan. Maknanya, badan dan pikiran harus bersih dari kotoran, supaya jiwa mampu berkomunikasi dengan Yang Maha Suci.

    Pemakaman adalah jalan. Beliau harus diantarkan untuk bertemu Yang Maha. Asal manusia dari tanah, maka harus melebur kembali dengan tanah.

    Meskipun tidak bisa menyaksikan prosesi sampai pemakaman, hamba telah dan akan bersaksi bahwa almarhum telah menunaikan tugasnya. Dari Allah, bersama Allah, dan kembali lagi kepada Allah.

    Wallahu a’lam.

  • Peresmian Klinik MA & Peletakan Batu Pertama Rumah Sakit MA Diagendakan Akhir Tahun 2021 Ini

    Peresmian Klinik MA & Peletakan Batu Pertama Rumah Sakit MA Diagendakan Akhir Tahun 2021 Ini

    TANGERANG, MATHLAONLINE – PT. Nucare Indonesia Sehat dan Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PBMA) melakukan penandatanganan nota kesepahaman untuk pembangunan klinik dan rumah sakit di daerah Cipeucang, Pandeglang, Banten.

    irencanakan, tahun ini akan dilakukan peletakan batu pertama di lahan seluas 13000 meter atau 1,3 hektare itu.

    Seperti diketahui, rencana pembangunan layanan kesehatan itu bermula saat kedermawanan Dewan Penasehat (PBMA) Jend Pol (Pur), Taufiequrachman Ruki menghibahkan tanahnya untuk kepentingan masyarakat.

    Niat baik itu disambut baik oleh Ketua Umum, Embay Mulya Syarief dan jajaran Pengurus Besar Mathla’ul Anwar masa khidmat 2021-2026.

    “Kami terharu ada tanah 1,3 hektare diserahkan untuk kepentingan umat. Kami dari situ bersemangat,” ujar Dir. Ops dan Tek PT Nucare Indonesia Sehat, Miftakhudin Haryanto saat sambutan di acara pelantikan PBMA, Tangerang, Jumat (25/6/2021).

    Pihaknya mengaku optimis terhadap Pengurus Besar Mathla’ul Anwar di bawah kepemimpinan Ketua Umum, Embay Mulya Syarief.

    “Kami PT Nucare Indomesia Sehat optimis dan sangat optimis. Mudah mudahan tahun ini bisa meresmikan dan meletakkan batu pertama rumah sakit dan klinik kesehatan. Semangat ini mari kita dukung,” terangnya.

    Sementara, Embay Mulya Syarief mengaku optimis, rencana pembangunan rumah sakit dan klinik kesehatan itu diresmikan pada akhir tahun 2021.

    Sebelumnya pernah dikatakan Embay, rencana ini adalah salah satu bentuk kepedulian Mathla’ul Anwar kepada kesehatan masyarakat, khususnya di Provinsi Banten.

    “MA ini bergerak di bidang pendidikan, dakwah dan sosial. Salah satu wujud dalam gerakan sosialnya kita rintis klinik ini. Alhamdulillah Pak Taufik Ruki (Ketua KPK pertama) berkenan bekerjasama untuk mewujudkan cita-cita itu dengan menyediakan tempat ini,” katanya.

    Embay menjelaskan, bahwa rumah sakit dan klinik itu didirikan untuk menjawab kebutuhan dasar masyarakat.

    “Kedepan sesuai perkembangan dan kemampuan, kita tingkatkan menjadi sebuah rumah sakit. Kami mohon do’a nya agar segera terwujud” kata Embay yang juga salah seorang tokoh pendiri Provinsi Banten itu.

  • Aini, Siswi MAS MA Pasirdurung yang Terbitkan Tiga Judul Buku

    Aini, Siswi MAS MA Pasirdurung yang Terbitkan Tiga Judul Buku

    PANDEGLANG, MATHLAONLINE – Warga Mathla’ul Anwar patut berbangga atas prestasi yang diraih oleh Aini, siswi Madrasah Aliyah Mathla’ul Anwar Pasirdurung, Ds. Pasirdurung, Kec. Sindangresmi, Kab. Pandeglang.

    Pasalnya, Aini yang merupakan siswi kelas 2 MAS MA Pasirdurung itu sudah menerbitkan 3 judul buku yang berbeda dan kesemuanya merupakan buku fiksi atau novel.

    Badri Wijaya selaku Kepala MAS MA Pasirdurung mengaku kaget akan kabar berita itu. Karena iapun baru tahu akhir – akhir ini bahwa siswanya punya karya literasi yang sangat luar biasa. Hal itu ia sampaikan pada momen Peprisahan dan Kenaikan kelas Mathla’ul Anwar Pasirdurung.

    “Saya baru tahu ini, saya menangis semalam. Ternyata, anak saya siswa saya ada yang punya karya luar biasa, saya baru tahu. Ini sangat hebat,” tutur Badri.

    Di hadapan para dewan guru dan wali siswa yang hadir ia mengapresiasi betul karya Aini itu dengan langsung menelepon rekannya yang juga Ketua IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) Banten, Andi Suhud Trisnahadi.

    “Saya semalam menelopn Ketua IKAPI Banten, beliau siap dampingi Aini untuk mempromosikan karyanya itu. Dan kebetulan di MA juga ada pengurus IKAPI, Pak Dr. Ukun Kurnia. Beliau juga sangat siap untuk memfasilitasi dan mempromosikan karya Aini” katanya.

    3 buku yang ditulis Aini masing – masing berjudul: Sejarah CintaSesat, dan Dokter. Badri Wijaya menaruh rasa bangga yang tak terbendung pada siswinya itu. Ini adalah sebagai bukti komitmen Mathla’ul Anwar Pasirdurung untuk membentuk karakter siswa/i-nya. (fr)

     

  • Mathla’ul Anwar Tolak Penjajahan Israel Atas Tanah Palestina

    Mathla’ul Anwar Tolak Penjajahan Israel Atas Tanah Palestina

    Jakarta, Mathlaonline — Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PB MA) menolak penjajahan zionis Israel atas tanah Palestina. Konflik bersenjata yang sudah berlangsung lama antara kedua negara ini telah menelan banyak korban nyawa khususnya warga sipil.

    Ketua Umum Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PB MA) KH Embay Mulya Syarief berujar, apa yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina tidak sesuai dengan konstitusi negara, yaitu UUD 45. Di mana pada mukadimahnya tegas menolak penjajahan dan kemerdekaan adalah hak segala bangsa.

    “Penjajahan di muka bumi tak boleh ada. Palestina merupakan negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Itu sudah sesuai dengan amanat UU. Membantu palestina itu sudah merupakan kesepakatan,” kata Ustad Embay Mulya usai acara Pelantikan PB Pelajar Islam Indonesia (PII) periode 2021-2023 di Hotel Santika Premier Hayam Wuruk, Jakarta, Ahad (23/5/2021).

    Dalam pandangannya, tidak ada pro-kontra yang terjadi di Indonesia dalam menyikapi koflik yang terjadi di Palestina.

    “Allah memberikan kita fasilitas 1/3 malam. Berjuta orang muslim Indonesia bangun dan dirikan sholat tahajud. Setiap waktu baca qunut nazilah untuk Palestina. Jadi gak perlu demo-demo. Aksinya tengah malam aja diwaktu 1/3 malam. Itu lebih terhormat,” terang Embay.

    Sebelumnya, organisasi pendidikan dan dakwah yang didirikan tahun 1916 di Provinsi Banten ini mengecam aksi penyerangan yang dilakukan oleh pihak polisi dan tentara Zionis Israel terhadap Masjid Al-Aqsha dan kaum muslimin yang tengah melaksanakan ibadah sholat pada malam ke-26 Ramadhan 1442 H lalu.

    Mathla’ul Anwar menilai penyerangan tersebut merupakan tindakan biadab dan tidak berperikemanusiaan. Oleh karena itu, Mathla’ul Anwar sebagai bagian dari pada ummat Islam dan Bangsa Indonesia yang sangat menentang penjajahan dalam bentuk apapun.

    Mathla’ul Anwar juga mendukung rakyat Palestina khususnya di Al-Quds/Yerussalem dan
    Masjid Al-Aqsha serta rasa bangga atas keteguhan hati mereka menjaga masjid dan tanah suci kaum muslimin.

    “Menyerukan kepada segenap umat Islam untuk saling mengajak ummat Islam lainnya agar membuktikan kepeduliannya terhadap Al-Aqsha dengan sama-sama mendoakan dan memberikan donasi serta bantuan semaksimal mungkin kepada kaum muslimin penduduk Al-Quds sebagai para penjaga masjid Al-Aqsha,” kata Embay dalam siaran persnya menyikapi serangan brutal tentara Israel terhadap warga Palestina.

    Dia juga menginstruksikan kepada seluruh Pengurus Wilayah, Pengurus Daerah, Pengurus Cabang, dan Pengurus Perguruan Mathla’ul Anwar seluruh Indonesia, untuk melakukan penggalangan dana bagi masjid Al-Aqsha dan warga Palestina.