Category: Berita

  • Maklumat Mathla’ul Anwar Terhadap Serangan Zionis Israel

    Maklumat Mathla’ul Anwar Terhadap Serangan Zionis Israel

    Penyerangan pihak polisi dan tentara penajajah Zionis Israel terhadap Masjid Al-Aqsha dan kaum muslimin yang sedang melaksanakan ibadah sholat di dalamnya, pada malam ke-26 Ramadhan 1442 H bertepatan dengan tanggal, 8 Mei 2021 M, yang kemudian penyerangan tersebut dilanjutkan pada malam berikutnya,
    sungguh merupakan tindakan biadab dan tidak berperikemanusiaan.

    Oleh karena itu, Mathla’ul Anwar sebagai bagian dari pada ummat Islam dan Bangsa Indonesia yang sangat menentang penjajahan dalam bentuk apapun, memandang perlu untuk mengeluarkan suatu Pernyataan sikap sebagai berikut :

    1. Mengutuk keras tindakan biadab tersebut yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang
    universal ditinjau dari sudut apapun juga;
    2. Meminta kepada Pemerintah Indonesia, agar menyatakan sikap tegas atas tragedi tersebut dan semakin
    meningkatkan dukungannya terhadap kemerdekaan Palestina sebagai wujud pelaksanaan amanah konstitusi bahwa segala bentuk penjajahan di atas dunia harus dihapuskan;
    3. Menyampaikan dukungan sepenuhnya kepada rakyat Palestina khususnya di Al-Quds/Yerussalem dan Masjid Al-Aqsha serta rasa bangga atas keteguhan hati mereka menjaga masjid dan tanah suci kaum muslimin;
    4. Menyerukan kepada segenap umat Islam untuk saling mengajak ummat Islam lainnya agar membuktikan kepeduliannya terhadap Al-Aqsha dengan sama-sama mendoakan dan memberikan donasi serta bantuan semaksimal mungkin kepada kaum muslimin penduduk Al-Quds sebagai para penjaga masjid Al-Aqsha;
    5. Menginstruksikan kepada seluruh Pengurus Wilayah, Pengurus Daerah, Pengurus Cabang, dan Pengurus Perguruan Mathla’ul Anwar seluruh Indonesia, untuk melakukan penggalangan dana bagi
    masjid Al-Aqsha dan warga Palestina, terlebih khusus disisa hari-hari Ramadhan tahun ini.

    Demikian Pernyataan Sikap ini kami sampaikan, sebagai wujud solidaritas sesama muslim dan sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
    Mudah-mudahan Allah SWT senantiasa memberikan pertolongan kepada kita. Amin.

     

  • JANGAN BUAT ALLAH CEMBURU

    JANGAN BUAT ALLAH CEMBURU

    Oleh Agus Nurcholis Saleh

    Penulis adalah Dosen di Universitas Mathla’ul Anwar, Program Studi Hukum Keluarga Islam

    KUNCI mendapatkan malam kepastian (lail al-Qadr) itu sangat sederhana. Lail al-Qadr is the most wanted of night. Eh, itu pun bagi yang faham saja. Terlalu banyak umat manusia dunia yang tidak paham dengan kemampuannya, termasuk jatahnya mendapatkan keistimewaan lail al-Qadr.

    Hanya sekedar informasi saja, “Malam qadar adalah malam diturunkannya Al-Qur’an. Malam itu adalah malam kemuliaan. Malam itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.”

    Malam itu posisinya di bulan Ramadlan. Banyak orang mencari-cari informasi, disebabkan tidak banyak orang yang siap standby selama di 30 malam Ramadlan. Ada orang yang ingin lebih rinci. Katanya untuk efektivitas dan efisiensi. Kalau bisa diketahui malam itu secara pasti, maka konsentrasi hanya untuk malam itu saja.

    Begitulah manusia. Hanya akan berbuat jika ada maunya, bukan atas sebab butuhnya. Manusia sendiri masih rancu dalam needs atau wants. Dalam estimasi manusia, jika sudah mendapatkan malam qadar, maka ada jaminan dalam seribu dibagi dua belas, maka di angka itulah manusia ‘boleh leha-leha’.

    Manusia hanya mampu menciptakan lagu, “Mau makan ingat kamu, mau mandi ingat kamu, mau bobo ingat kamu.” tapi tak mau melaksanakan isi lagunya. Manusia jarang sedia mengganti huruf ‘k’ pada kata ‘kamu’ dengan ‘k’ besar. Artinya, ‘kamu’ di situ jangan terbatas pada hal yang bersifat duniawi saja, tapi Dia-lah Yang Maha Besar.

    Allah telah memperingatkan, silahkan manusia mencoba-coba menghitung berapa nikmat yang telah diterimanya. Tapi untuk kebutuhan dirinya, kenapa manusia masih perhitungan juga? Padahal, jika benar-benar dihitung, posisi manusia berada di saldo minus. Terlalu banyak nikmat yang belum dibahagiakan oleh manusia.

    Bulan Ramadlan adalah bulan bahagia. Secara tega, manusia mengubahnya menjadi bulan segala alasan. Ada banyak alasan dikemukakan, sehingga jam kerja dikurangi. Sebaliknya, jam leha-leha jadi bertambah. Belum lagi dengan alasan bangun malam. Padahal hanya untuk makan.

    Ada siang dijadikan malam. Siangpun berganti menjadi malam.
    Bulan Ramadlan adalah bulan keistimewaan. Tapi manusia jarang sekali yang membuatnya istimewa. Malam-malam hanya diisi dengan sampah kembang api. Beberapa kali diselingi dengan bunyi petasan dan teman-temannya.

    Dari masjid hanya terdengar suara Alquran. Tapi Alquran hanya disuka dalam bacaan, bukan mewujud dalam kehidupan.

    Andai malaikat memiliki kemurkaan, sudah habis manusia dimusnahkan. Pasti betapa kecewanya melihat manusia berkehidupan.

    Terlalu banyak nikmat Allah yang disia-siakan. Terlalu banyak kasih Allah yang lewat begitu saja. Terlalu banyak pertolongan Allah yang terbuang percuma. Manusia mengacuhkan ‘tangan’ Allah untuk ketidakjelasan tangannya.

    Manusia sangat tak mau tahu bahwa bisa itu dibisakan, bahwa mampu itu dimampukan, bahwa kuat itu dikuatkan, bahwa kaya itu dikayakan, bahwa pintar itu dipintarkan, bahwa tenang itu diberi ketenangan. Kenapa sulit sekali menyadari? Padahal Allah selalu mengontak manusia. Setidaknya, rasakanlah detak tubuhnya melalui urat nadi.

    Setiap otot itu berdetak, sambutlah dengan Maha Suci Allah (subhanallah), sebutlah Allah untuk berterima kasih (alhamdulillah), sadarilah Allah sebagai Yang Maha Besar (Allah akbar), bahwa manusia itu kecil, lemah, banyak keterbatasan, maka ikrarkan dengan seyakin-yakinnya kepada Yang Maha Gagah Perkasa (la ilaaha illa Allah).

    Jika tidak mampu dalam setiap detik berdetak, sebutlah Dia dalam waktu-waktu shalat. Jika masih tidak mampu, ingatlah Dia di pagi dan sore. Jika masih tidak, buatlah laporan semalam sekali, sebelum manusia dimatikan untuk diberi rehat mengistirahatkan anggota badan. Jika masih tidak, wajarlah jika Allah mengunci hati dan lantas mematikan.

    Nyatanya, malam qadar pun tak banyak manusia yang standby menjemputnya. Bagi yang memilih kesibukan dunia, maka dunialah sebagai tameng hidupnya. Alasan kebutuhan adalah alasan ketidakmampuan. Manusia tidak mampu memetakan, mana yang dibutuhkan pikiran, maka yang dibutuhkan perasaan, dan mana yang dibutuhkan oleh anggota badan.

    Setelah memiliki satu kendaraan, manusia ingin menambahnya menjadi dua. Tangan manusia sudah memegang dua gadget, ternyata masih ingin tiga, empat, dan lima. Tapi untuk shalat, jika bisa satu menit, kenapa harus ditambah menjadi dua menit.Jika bisa dipercepat, kenapa tarawih harus diperlambat?

    Di bulan puasa ini, Allah terlalu banyak disakiti. Itu manusia lebih berharap kepada maghrib dengan berbagai makanan yang disiapkan. Ada yang mengejar kesegaran takjil, dibela-belain antri, dan setiap sore dirindukan.

    Padahal di dekat manusia, Allah menunggu dipanggil-panggil. Bersyukurlah jika salah rindu itu ditolong oleh do’a yang diucapkan.
    Tak lebih dari seminggu, Ramadlan akan pergi meninggalkan. Sebelum terlambat, mari khususkan waktu akhir ini untuk menambal lobang-lobang kebodohan.

    Kepada Allah jangan membuat hitungan. Nanti dibalikkan dalam pertanyaan-pertanyaan. Sedikitpun manusia tidak akan mampu memberikan jawaban. Yang terbaik dari jawaban adalah pengabdian.

    Di sisa waktu ini, mari ingat Allah, kita sebut Dia, kita sucikan anggota badan kita, jiwa beserta pikiran, kita rasakan belaian-Nya, untuk kekuatan perjalanan. Tidak ada kata untuk terlambat. Malam qadar itu pasti secara sengaja diberikan Allah kepada hamba-hambanya. Apalagi bagi mereka yang setia bersama-Nya, dalam dzikr, dalam sujud, dalam do’a (shalat), Kuncinya ‘jangan buat Allah cemburu’.

    Wallahu a’lam.

  • Berburu Malam Lailatul Qadr, Ini Kiat dari UAS

    Berburu Malam Lailatul Qadr, Ini Kiat dari UAS

    Hikmah, mathlaonline — Sepanjang Ramadhan, terdapat satu malam yang paling ditunggu umat Islam, yakni Lailatul Qadar. Malam kemuliaan itu lebih baik dari pada seribu bulan (QS al-Qadar: 3). Jumhur ulama berpendapat, malam itu terjadi pada 10 hari terakhir Ramadhan. Apalagi pada malam-malam ganjil, semisal malam 21, 23, 25, 27, dan 29.

    Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang beribadah pada Lailatul Qadar semata-mata karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah SWT, niscaya diampuni dosa-dosanya yang terdahulu” (HR Bukhari).

    Bayangkan Ramadan Terakhir

    Ustaz Abdul Somad (UAS) menyampaikan beberapa saran agar Muslimin dapat meraih kemuliaan Lailatul Qadar.

    Pertama-tama, bayangkanlah Ramadhan kali ini sebagai yang terakhir dalam hidup kita. Dengan anggapan demikian, insya Allah kita dapat sungguh-sungguh serius dalam melalui setiap menit, jam, dan hari sepanjang bulan suci. Kita akan merasa rugi bila melewati waktu tanpa beribadah kepada Allah SWT.

    Fokusnya bukan sekadar satu malam, melainkan seluruh malam pada bulan suci. Dengan begitu, Lailatul Qadar tak akan terlalaikan. “Anggap ini Ramadhan terakhir. Ingat, manusia mati tidak membawa apa-apa kecuali amal,” kata UAS kepada Republika beberapa waktu lalu.

    Tobat Nasuha

    Tips selanjutnya dari UAS agar seorang Mukmin mendapatkan Lailatul Qadar ialah tobat. Menurut suatu hadis, selama Ramadhan Allah SWT membuka lebar pintu ampunan bagi hamba-hamba-Nya yang ikhlas bertobat. Siapkan hati dengan penuh kerendahan diri di hadapan-Nya. Ingat lagi bagaimana kita melalui hari-hari dalam kehidupan ini. Betapa banyak dosa dan kesalahan yang sudah dilakukan.

    “Merasa diri banyak dosa-dosa, bersimpuh memohon ampunan-Nya,” ujar alumnus Universitas al-Azhar itu.

    Seyogianya kita menyadari, Ramadhan adalah kesempatan untuk melakukan tobat nasuha. Apalagi, dalam 10 malam terakhir bulan suci.

    Kita pun mesti optimistis. Jangan berputus asa dari rahmat Allah. Sabda Nabi SAW, “Allah lebih senang pada tobatnya seorang hamba yang bertobat melebihi senangnya orang kehausan yang menemukan air.”

    Perbanyak Amalan

    Semangat “Ramadhan terakhir” dan kesungguhan bertobat adalah dorongan yang kuat untuk memperbanyak amalan sunah. Agar upaya maksimal, UAS menyarankan agar Muslimin mengurangi tidur dalam 10 malam terakhir Ramadhan. Dengan begitu, waktu untuk beribadah pun semakin banyak.

    Di luar puasa dan amalan-amalan wajib lainnya, Muslimin pun dianjurkan untuk mempersering ibadah sunah. Misalnya, tadarus Alquran, shalat tarawih, witir, dan sebagainya. Begitu pula dengan shalawat dan zikir. “Sahabat Nabi SAW, Abu Hurairah, bertasbih dua ribu kali semalam,” ujar UAS.

    Tak harus di masjid. Rumah pun dapat menjadi tempat menanti kemuliaan malam Lailatul Qadar. Semoga kita semua diridhai-Nya untuk meraih hal itu!

  • PENDIDIKAN TAK BERPENDIDIKAN

    PENDIDIKAN TAK BERPENDIDIKAN

    Oleh Agus Nurcholis Saleh

    Penulis adalah Dosen di Universitas Mathla’ul Anwar, Program Studi Hukum Keluarga Islam

    Ada banyak wilayah yang dikenal se-Indonesia sebagai kota pelajar. Satu diantara yang terkenal adalah Yogyakarta. Tentu, masih banyak kabupaten/kota lain yang mendapatkan julukan serupa, dengan berbagai ciri khas dan keistimewaan lainnya.

    Setidaknya, kabupatan/kota itu sering menjadi destinasi, terutama karena ada lembaga pendidikan bonafid yang terdapat di wilayah tersebut.

    Di Banten, Menes menjadi salah satu tujuan berpendidikan, baik dari wilayah Pandeglang sendiri, maupun dari luar Pandeglang. Apalagi keberadaan Mathla’ul Anwar, sebagai pionir pendidikan, menjadi daya tarik tersendiri.

    Di suatu masa dahulu, rumah orang tua seorang sahabat dari Pasir Waru menjadi homebase pelajar Mathla’ul Anwar dari daerah Kepuh dan Lampung.

    Hari ini, apa yang terjadi di suatu daerah adalah jejak dari sebelum-sebelumnya. Apakah masih terjaga ‘kepopuleran’nya atau sudah luntur karena tidak dipelihara, maka yang tersisa hanyalah monumen dan kisah-kisah heroik masa lalu.

    Peringatan dari Allah seringkali dianggap angin lalu. Bisa jadi terlena dengan kesegaran angin semilir yang menyapa sekujur tubuh. Padahal, tugas manusia hanyalah menjaga bonafiditas.

    Bonafid adalah kata sederhana dari ragam faktor yang ada di dalamnya. Kalau dikaitkan dengan pendidikan, maka faktor input dan proses adalah pembangun bonafiditas.

    Input itu terdiri dari man, material, money, modal, dan machine. Ini dikenal sebagai 5M. Sedangkan faktor proses adalah managerial alias kepemimpinan.

    Hal ini terkait dengan bagaimana seseorang berusaha menjadi, atau bagaimana sebuah lembaga menjadi bonafid.

    Secara kamus besar, bo.na.fid artinya dapat dipercaya dengan baik. Sedangkan bo.na.fi.di.tas adalah hal dapat dipercaya, baik dari segi kejujuran maupun dari segi kemampuannya.

    Tentu, lembaga pendidikan menjadi bonafid adalah yang mampu menjaga atau memelihara kelima faktor itu terkelola secara profesional. Adapun yang tidak berkemampuan, inilah pendidikan yang tak berpendidikan.

    Kalau melihat Alquran, membaca adalah inti dari pendidikan. Jika tidak bersedia membaca, maka kepintaran manusia akan luntur ditelan masa.

    Kesempurnaan itupun tinggal cerita. Sulitkah manusia untuk membaca? Kenyataan dunia adalah jawabannya. UNESCO menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia. Sungguh pahit mengetahuinya. Betapa minat baca orang Indonesia sangat rendah.

    Data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari seribu orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca! Modernitas hanyalah kamuflase.

    Apalah artinya sekolah atau madrasah. Para siswa dan mahasiswa hanya mendapatkan status saja sebagai pelajar atau sangat terpelajar.

    Benarlah di masa dahulu, Surat Tanda Tamat Belajar, bukan telah belajar apalagi terpelajar.

    Di suatu kekesalan, hamba pernah bercita-cita untuk menjadi Menteri Pendidikan. Tapi tugasnya hanya satu, dalam ‘lamunan’ itu, yaitu membubarkan lembaga pendidikan.

    Bagaimana dengan uang BOS? Biarlah ibu-ibu menjalankan perannya secara maksimal, dan itu harus didukung secara maksimal. Oleh karena itu, rekening BOS adalah rekening ibu-ibu, jumlahnya menyesuaikan dengan anak-anak yang dipercayakan Allah kepada mereka.

    Hamba pun banyak diprotes oleh teman. Katanya, saya anti kemapanan. Bisanya hanya mengacaukan. Memang benar, karena kebiasaan, manusia-manusia akan merasa terganggu jika kebiasaannya dibubarkan.

    Sulit sekali memindahkan tangan di bawah menjadi tangan di atas. Begitulah pendidikan tak berpendidikan. Sekolah itupun menjadi kebiasaan. Mereka tidak bergerak karena ilmu, apalagi keikhlasan. Begitulah tantangan. Mari kita jawab.

    Sadarkah manusia bahwa mereka itu luar biasa sempurna? Malaikat pun sampai terdiam. Allah yang menegaskan. Jika seantero alam semesta ini dihafal oleh manusia, maka otaknya memiliki kemampuan untuk melakukan.

    Komputer cerdas itu buatan manusia kan? Kenapa pembuatnya jadi terjajah oleh mesin ciptaannya? Teknologi itu diciptakan. Bukankah manusia yang menciptakan teknologi?

    Oleh karena itu, kalau hanya sekadar membaca, apa sulitnya bagi manusia? Manusia, melalui kepala, hati, dan perangkat di badannya, telah diberi bekal oleh Allah untuk menjadi pemain inti.

    Lalu, kenapa banyak manusia banyak yang ke pinggiran dan memilih menjadi pemain cadangan? Bahkan, untuk bercita-cita pun, banyak diantara para pelajar yang memilih mundur dan berlari dari mencari jawaban. Itulah pendidikan tak berpendidikan.

    Manusia harus ingat. Allah mengirimkan manusia karena manusia meminta Allah untuk di’pekerja’kan. Oleh karena itu, pertanggungjawabkan permintaan itu. Kerja. Kerja. Kerja. Tapi manusia harus bekerja dengan pengetahuan, bukan sekerja-kerjanya. “Saya mah yang penting bekerja.”

    Ternyata, ketika pekerjaannya tidak sesuai dengan keinginannya, manusia lari seribu bahasa. Begitulah kalau manusia bekerja untuk manusia.
    Manusia itu terlalu sering mengecewakan, karena manusia tidak memiliki kemampuan untuk memuaskan banyak kalangan.

    Kemampuan manusia itu dimampukan. Allah yang membuat manusia memiliki kemampuan. Jika seorang siswa rangking satu, maka Allah lah yang membuat dia itu rangking satu. Adapun guru hanya terlibat dalam penulisan saja. Kalau ada guru yang protes, wajarlah jika pendidikan itupun tak berpendidikan.

    Yu mari semua sampaikan protes. Allah akan menerimanya. Apalagi saya, bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Itulah gelar hamba, sebagaimana teman telah lebih dahulu memakainya.

    Di belakang namanya tertulis, BAA, BSS. Dari protes itu, mari kita belajar untuk memperbaiki. Diri sendirilah yang bertanggung jawab untuk memulai dan mengakhiri. Jangan menunggu diakhiri oleh Allah melalui panggilan kuburan.

    Wallahu a’lam.

  • ADA APA DENGAN ALQURAN?

    ADA APA DENGAN ALQURAN?

    Oleh Agus Nurcholis Saleh

    Penulis adalah Dosen di Universitas Mathla’ul Anwar, Program Studi Hukum Keluarga Islam

    ISENG menghitung masjid. Dari tempat domisili menuju tempat bekerja, hanya yang di pinggir jalan saja, ternyata berjumlah 15 buah. Secara jarak, perjalanan pergi/pulang menempuh 8,4 kilometer.

    Secara maps google, jarak itu bisa ditempuh dalam 17 menit. Seluruh masjid itu telah disinggahi. Ada yang nyaman untuk berlama-lama, ada juga yang ingin segera, hanya untuk kebutuhan shalat saja. Apalagi jika masjid-masjid itu menyediakan Alquran yang menarik hamba untuk membaca. Kisahnya pasti berbeda.

    Dua kata yang menjadi kunci dalam tulisan ini adalah ketertarikan dan membaca. Sedangkan masjid sebagai pendukung saja. Jika manusia sangat tertarik kepada Allah, pasti sebagian besar waktunya akan didistribusikan ke masjid. Jika manusia memiliki daya baca yang terpelihara, maka Alquran adalah teman setianya.

    Sebagai tempat, masjid akan merasa bahagia telah membantu manusia. Sebagai ‘media’, Alquran akan membalas pembacanya di hari kiamat dengan kemudahan-kemudahan yang telah direstu-tetapkan oleh Allah.

    Restu Allah itu maha sangat penting. Ada banyak manusia meminta do’a restu. Bahkan di undangan pun sering terselip do’a restu. Tapi sedikit manusia yang meminta restu itu kepada Allah. Nyatanya, manusia hanya mengandalkan lisan dalam permohonan.

    Adapun request via Alquran, hanya sedikit yang melakukan. Lebih ironi lagi kepada mereka yang mengaku dekat dengan Alquran, tapi tampilan perbuatannya tidak Qur’ani. Mungkin sekali ini semacam tuduhan, tapi kenyataan dalam kehidupan adalah bukti dari tuduhan tersebut.

    Bulan Ramadlan ini adalah fakta. Alquran terfragmentasi ke banyak wujud. Pertama, Alquran sebagai barang. Alquran adalah produk percetakan yang dipajang di banyak tempat. Meskipun hanya di etalase, pengaruh Alquran cukup signifikan.

    Setidaknya, Alquran mengingatkan manusia melalui mata. Selain itu, ada banyak tangan yang memegang (lembaran), mengangkat-angkat, dan atau memindahkan. Semoga saja mereka berkeyakinan untuk selalu dalam keadaan suci. Pastilah wudlu mereka tidak pernah putus.

    Kedua, Alquran sebagai simbol Islam. Hal ini masih setara dengan Alquran sebagai barang. Ketika di sebuah ruangan melihat Alquran, atau di mobil/kendaraan tergeletak Alquran, maka penghuninya ada yang beragama Islam.

    Ketika seseorang membawa Alquran, tidak perlu bertanya tentang agamanya, karena langsung diasumsikan bahwa orang tersebut beragama Islam. Simbol adalah ciri. Meskipun diturunkan untuk seluruh manusia, Alquran adalah ciri bagi seseorang untuk disebut-sebut sebagai Muslim.

    Ketiga, Alquran sebagai bacaan. Pertanyaannya, seberapa banyak manusia (muslim) membacanya? Logika dari kehadiran Alquran, membaca adalah keharusan.

    Hal itu untuk kemerdekaan, karena jika bertahan di posisi mendengarkan, adakah orang lain yang bersedia membacakan? Menjadi tergantung itu tidak mengenakkan.

    Menggantung yang benar hanyalah kepada yang kuat, kokoh, dan tidak tertandingi. Jika manusia bersandar, maka sandaran itu tidak akan pernah roboh. Informasi ini lengkap dituliskan di Alquran.

    Sebagai bacaan, Alquran bersifat ‘pasif’. Alquran setia menunggu para pembaca untuk membuka, membaca, dan menikmati isinya. Manusia benar-benar dimerdekakan, hal itu untuk sampai pada tahap kesadaran.

    Allah dan Alquran tidak melakukan pengumuman, apalagi promo. Allah percayakan kepada manusia sendiri untuk merasakan bagaimana signifikansi Alquran untuk kehidupan, kemudian mengetuk mereka untuk mempromosikan bagaimana Allah Yang Demikian Sayang. Semoga banyak manusia yang merasa-lakukan.

    Alquran adalah ‘pertanggungjawaban’ Allah kepada manusia. Setelah menciptakan, Allah membuat panduan, supaya manusia tidak salah jalan, dan berhasil kembali ke pangkuan dalam kesucian.

    Dengan panduan Alquran, Allah sedang mewujudkan kasih sayang-Nya kepada manusia. Jika untuk pertanggungjawaban, manusia harus ditempa dengan keras, itu bagian dari kasih sayang.

    Orang tua dan guru-guru sering melakukan, bahwa kasihan itu tidak serta merta dalam bentuk pemberian atau persetujuan pelulusan.
    Alquran adalah petunjuk keselamatan. Sebagaimana sehat, untuk selamat itu dibutuhkan rupa-rupa tekanan dan kepahitan.

    Dalam hal ini, Allah menegaskan bahwa Alquran diturunkan tidak untuk memberatkan. Jika oleh manusia terasa berat, maka setting pikirannya yang harus diatur. Manusia sering lupa ia sedang melakukan apa, bahwa di dunia ini bukan jalan-jalan atau bersenang-senang.

    Maka, fokuslah pada tugasnya. Untuk meringankan, maka buatlah rencana perjalanan, harian, mingguan, bulanan, dan tahunan.

    Dari iseng menghitung masjid tadi, ternyata hidup manusia dipimpin oleh rutinitas. Jika rutinitas itu melalui perencanaan, tentulah sebuah kebaikan. Setelah pembiasaan, maka berikutnya adalah penciptaan karakter. Sayang, tidak banyak yang betah tinggal di masjid. Siang kosong, malampun sepi.

    Bahkan banyak masjid yang dikunci. Kalau ada yang tiduran, seringkali dianggap sebagai ‘kotoran’. Apakah sulit bagi pejabat masjid untuk memunculkan dugaan bahwa mereka itu sedang i’tikaf. Bukankah membantu istirahat adalah kebaikan?

    Tidur adalah kebutuhan, sampai batas/ukuran tertentu yang dikehendaki tubuh, alias selama proporsional dengan aktivitas tubuh. Tidur adalah mekanisme istirahat secara keseluruhan, termasuk dari kesalahan kebiasaan.

    Daripada membuat dosa, dengan ghibah misalnya, bukankah tidur adalah istirahat (berhenti) dari membicarakan orang? Dari 24 jam keseharian, delapan jam adalah untuk yang pas untuk tidur, sampai kemudian, semakin tua, tidur semakin berkurang. Bagi umat Islam, tidur pun bisa bernilai ibadah.

    Kuncinya adalah ikrar dan kepasrahan. Di sepanjang usia harian, sisa dari mengistirahatkan badan dan pikiran, kurang lebih ada enam belas jam. Ikrarkan oleh kita untuk diisi dengan Alquran. Bacalah basmalah sebagai awalan, kemudian tutup dengan mengucapkan hamdalah.

    Adapun keberartian dan kebermanfaatan, kita pasrahkan kepada Yang Menguasai alam. Kita harus menjadikan Alquran sebagai inti dari kehidupan, bukan sebagai “sisa” karena bingung dengan apa yang harus dikerjakan. Bukalah dan bacalah.

    Siapapun yang membaca Alquran, motifnya pasti beragam. Ada yang merasa terpaksa, karena perintah dan tekanan. Ada juga yang penasaran, sebagaimana para muallaf melakukan. Selain itu, ada juga yang karena tugas atau prasyarat pekerjaan/profesi. Ada yang menghafal ayat karena amplop dan uang.

    Wahai para pembaca dan manusia pada umumnya, kenapa tidak sekalian saja mencintai? Segala sesuatu itu harus keseluruhan, maksimal saja sekalian. Hidup tidak boleh di tepi. Hidup itu bukan icip-icip.

    Kepada mereka yang telah mencintai, maka Alquran pun mengembalikan cinta itu berlipat-lipat banyaknya. Jika para pecinta itu memiliki kebutuhan, maka Allah akan segera memberikan. Kalau sudah dekat, apa yang terhambat?

    Alquran adalah pesan kehidupan sekaligus petunjuk berjalan ke depan. Jika ingin kepastian di depan, maka Alquran harus dijadikan sebagai satu-satunya pegangan. Lengkaplah sudah titik-titik kehidupan. Dengan pengetahuan ke belakang (kisah para pendahulu), maka lurus ke depan bukanlah hambatan.

    Alquran adalah jalan kecerdasan. Alquran adalah pembeda manusia, mana yang berjalan memenuhi panggilan-Nya, mana yang memilih melawan kehendak-Nya. Siapa yang konsisten membaca, maka Allah turunkan hijab rahasia sebagai perlindungan dari para pecinta dunia.

    Mereka akan terus merawa kehausan, meskipun bekal dunianya sudah berlebihan. Hidupnya terasa kosong dan hampa. Begitulah seterusnya sampai tiada terhingga lamanya. Lantas dengan modal apa mereka ingin ke surga?

    Alquran adalah pengisi kekosongan dan kehampaan. Bersama covid-19, Alquran adalah sahabat untuk menenteramkan. Ada banyak manusia yang khawatir tak berkesudahan.

    Mereka sangat tergantung dengan tawaran-tawaran dunia, dan setiap hari menggerus pundi-pundi mereka. Ketika dilantunkan Alquran, bukannya diterima dengan kesadaran. Justru, mereka histeris dengan ketidakpercayaan. Ya sudahlah. Hal itu persis dengan yang teramati di masjid-masjid tadi. Sayang sekali.

    Ternyata, Alquran yang berada di masjid-masjid tadi terlalu sukar untuk “dijangkau”. Ada yang terkunci di lemari, ada juga yang terselimuti oleh debu. Apakah masjid itu hanya untuk shalat?

    Padahal shalat itu tidak hanya sujud. Apakah shalat itu hanya berdiri fiqh sejak niat sampai salam? Padahal, shalat, masjid, Alquran, dan manusia adalah satu kesatuan. Setidaknya, lima waktu dalam sehari, manusia-manusia itu sedang disatukan kembali setelah jeda dunia menceraikan dan memporak-porandakan kesejatian hamba.

    Dari sekian informasi tersebut di atas, masihkah ada hasrat di manusia untuk melawan? Dengan demikian, Alquran itu tidak pernah memiliki kesalahan. Justru, pertanyaan yang benar adalah ‘Ada apa dengan Manusia?’ Ketika telah dimerdekakan, manusia mempersempit diri dengan berbagai penganiayaan.

    Alquran adalah modal kesadaran. Manusia harus menyegerakan, jangan menunggu-nunggu godaan datang.

    Wallahu a’lam.

  • Keutamaan Tadarus Al Quran di Bulan Ramadan

    Keutamaan Tadarus Al Quran di Bulan Ramadan

    Salah satu amalan yang dianjurkan di bulan suci Ramadhan adalah memperbanyak membaca Alquran. Selain karena pahala ibadah akan berlipatganda, Alquran pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad di bulan yang penuh berkah tersebut.

    Mengutip buku Tuntunan Ibadah di Bulan Ramadhan karya Toni Yunanto (2019), dalam hadits shahih dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bertemu dengan Malaikat Jibril setiap malam pada bulan Ramadhan untuk membacakan kepadanya Al-Qur’anul Karim.

    Maka tidak heran apabila banyak umat Islam yang ingin mengikuti jejak Rasulullah dan memasang target untuk mengkhatamkan Alquran di bulan suci Ramadhan.

    Namun, bagaimana caranya? Berikut ini adalah tips khatam Alquran di bulan Ramadhan yang dihimpun dari berbagai sumber:

    Membangun Niat

    Niat dibutuhkan untuk membangun tekad kuat agar seseorang dapat mengerjakan suatu ibadah dengan istiqamah. Tentu saja mengkhatamkan Alquran harus diniati untuk mengharap ridha Allah SWT.

    Rasulullah bersabda,“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari, no.1 dan Muslim, no.1907).

    Buatlah komitmen dan yakinkan diri sendiri bahwa Anda dapat khatam Alquran selama Ramadhan. Misalnya dengan mengingat atau menulis kalimat motivasi seperti “Mulai hari ini saya senantiasa tadarus Alquran setiap hari dan khatam setiap bulan”.

    Menetapkan Waktu untuk Fokus Membaca Alquran

    Mengutip buku The 9 Golden Habits for Brighter Muslim tulisan Agus Sukaca (2014), akan lebih mudah apabila Anda bertadarus di waktu-waktu tertentu dengan menetapkan target. Misalnya setelah selesai shalat Tahajud membaca sepertiga juz, setelah shalat Subuh sepertiga juz, dan setelah shalat Magrib membaca sepertiga juz.

    Menurut Toni Yunanto (2019), waktu terbaik untuk memperbanyak bacaan Alquran adalah di malam hari karena seseorang dapat terbebas dari segala kesibukan. Dengan demikian hati dan pikiran hanya berfokus pada ayat-ayat suci yang ada di hadapannya.

    Membaca 1 Juz Setiap Harinya

    Mengutip Ihya Ulumiddin karya Imam Al Ghazali, para sahabat Nabi dari generasi awal Islam bisa mengkhatamkan Alquran dalam waktu satu minggu. Caranya mereka mengumpulkan surah-surah Alquran menjadi tujuh bagian.

    Saat ini karena telah jelas pembagian atas Alquran dalam bentuk kitab, maka umat Muslim dapat membaca Alquran satu juz setiap hari. Artinya selama tiga puluh hari atau satu bulan, kita bisa mengkhatamkan tiga puluh juz Alquran.

    Sumber: Kumparan.com

  • Keutamaan Tadarus Al Quran di Bulan Ramadan

    Keutamaan Tadarus Al Quran di Bulan Ramadan

    Tadarus berasal dari asal kata darosa-yadrusu, yang artinya mempelajari, meneliti, menelaah, mengkaji, dan mengambil pelajaran. Lalu di tambahan huruf ta’ di depannya sehingga menjadi tadaarosa-yatadaarosu, maka maknanya bertambah menjadi saling belajar atau mempelajari secara lebih mendalam.

    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tadarus artinya membaca kitab suci al-qur’an secara bersama-sama di masjid, di musholla atau pun di rumah pada bulan ramadhan. Satu orang membaca dan yang lain menyimak. Tadarus al-qur’an adalah salah satu ibadah yang paling utama di bulan Ramadhan selain berpuasa di siang harinya dan shalat tarawih pada malamnya.

    Pada bulan Ramadhan ditekankan bagi setiap muslim yang mengharap rahmat Allah Swt dan takut akan siksa-Nya untuk memperbanyak membaca Al-Qur’anul Karim pada bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt, mengharap ridha-Nya, memperoleh keutamaan dan pahala-Nya. Karena Al-Qur’anul Karim adalah sebaik-baik kitab, yang diturunkan kepada Rasulullah termulia, untuk umat terbaik yang pernah dilahirkan kepada umat manusia dengan syari’at yang paling utama, paling mudah, paling luhur dan paling sempurna.

    Al-Qur’an diturunkan untuk dibaca oleh setiap orang muslim, direnungkan dan dipahami makna, perintah dan larangannya, kemudian diamalkan. Sehingga ia akan menjadi hujjah baginya di hadapan Tuhannya dan pemberi syafa’at baginya pada hari Kiamat.

    Sabda Rasulullah Saw :

    ”Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafa ‘at bagi pembacanya.” (HR. Muslim dari Abu Umamah)

    Dalam riwyat lain Rasulullah Saw bersabda (yang artinya) : “Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat kepada hamba di hari Kiamat, puasa akan berkata : “Wahai Rabbku, aku akan menghalanginya dari makan dan syahwat, maka berilah dia syafa’at karenaku”. Al-Qur’an pun berkata : “Aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka berilah dia syafa’at karenaku” Rasulullah Saw bersabda : “Maka keduanya akan memberi syafa’at.” (HR. Ahmad 6626, Hakim 1/554, Abu Nu’aim 8/161)

    Allah Swt juga menjamin bagi yang membaca dan mengamalkan Al-Qur’an tidak akan tersesat dan tidak akan celaka di akhirat. Firman Allah Swt.

    فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ

    ”Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thaha:123)

    Allah Swt juga akan menurunkan ketenagan dan diliputi rahmat bagi orang yang berkumpul untuk membaca Al-Qur’a, mempelajarinya dan menyebut-nyebut namanya di hadpan makhluk yang ada disisi Allah Swt.

    Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah Saw bersabda :

    “Dan tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu masjid dari masjid-masjid Allah, untuk membaca Al Qur’an dan mereka saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan diturunkan kepada mereka ketenangan, diliputi rahmat, dan dikelilingi malaikat, dan mereka akan disebut-sebut Allah dihadapan makhluq-makhluq yang ada di sisi-Nya (para malaikat).” (HR Muslim no. 2699)

    Bahkan kebajikan orang yang membaca Al-Qur’an akan dibalas 10 kali lipat setiap hurufnya. Sebagaimana di jelaskan dalam hadits Rasulullah Saw.

    Dari Ibnu Mas’ud ra, katanya: Rasulullah Saw bersabda:

    ”Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf; tetapi alif satu huruf; lam satu huruf dan mim satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi, katanya: hadits hasan shahih)

    Apalagi kita membacanya di bulan Ramadhan. Tentu kebajikan akan berlipat ganda lagi. Sebab Allah Swt akan melipat gandakan pahala setiap kebajikan di dalam bulan Ramadhan. Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda,

    “Dalam bulan biasa, pahala setiap kebajikan dilipat gandakan 10 kali lipat, namun dalam bulan Ramadhan pahala amalan wajib dilipat gandakan 70 kali lipat dan amalan yang sunah disamakan dengan pahala amalan wajib di luar Ramadhan.” (HR. Muslim)

    Salah satu contoh kita membaca Surah al-Fatihah. Jumlah ayatnya adalah tujuh ayat berdasarkan ijmak para ulama. Jumlah hurufnya adalah 156 huruf. Diluar Ramadhan kita membaca Al-Qur’an akan mendapatkan balasan 156 x 10= 1560. Tentu di bulan Ramadhan akan dilipat gandakan lagi.

    Begitu juga kalau sempat khatam Al-Qur’an sekali, dua kali atau lebih dlam bulan Ramadhan. Tentu akan lebih banyak lagi kebajikan yang akan kita dapatkan. Sebab Al-Quran, jumlah hurufnya ada 321.180 huruf. (Tafsir Ibn Katsir, 1/98).

    Diluar Ramadhan kita mengkhatamkan Al-Qur’an akan mendapatkan kebajikan sebanyak 321.180 x 10 = 3.211.800. Tentu akan berlipat ganda lagi apabila khatam Al-Qur’an itu di bulan Ramadhan.

    Tentunya akan lebih baik lagi, apabila kita tadarus Al-Qur’an yang sebenarnya. Bukan hanya sekedar membaca, tetapi mempelajarinya secara mendalam dan mengamalkannya.

    Firman Allah Swt.

    يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

    “Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Ma’idah: 16)

    Sahabat bacaan madani yang dirahmati Allah Swt. Suatu hal yang istimewa bagi umat Nabi Muhammad Saw ada satu anugerah yang sangat besar dan tidak diberikan kepada umat sebelumnya- yaitu berupa anugerah satu bulan (Ramadhan) yang di dalamnya banyak keistimewaan dibandingkan dengan bulan lainnya. Bahkan Rasulullah Saw. Menyampaikan bahwa “Jika umatku tahu nilai yang ada dalam bulan Ramadhan, maka pasti mereka berharap seluruh bulan menjadi bulan Ramadhan.”

  • Ustadz Tengku Zulkarnain: MA Khidmat Pada Umat Islam dan Rakyat Indonesia Tanpa Pamrih

    Ustadz Tengku Zulkarnain: MA Khidmat Pada Umat Islam dan Rakyat Indonesia Tanpa Pamrih

    Jakarta, Mathlaonline–Kurang dari 1 bulan lagi, Mathla’ul Anwar akan menyelenggarakan Muktamar XX nya di tengah Pandemi Covid-19.

    Konsolidasi akbar yang salah satu agendanya adalah pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Mathla’ul Anwar untuk periode 5 tahun yang akan datang.

    Muktamar XX Mathlaul Anwar akan dilangsungkan 1-3 April 2021 mendatang di Grand Cempaka Resort & Convention, Megamendung, Kabupaten Bogor.

    Muktamar disambut riuh oleh kader – kader Mathla’ul Anwar di seluruh daerah di Indonesia, tak terkecuali aktivis dakwah Indonesia, Ustadz Tengku Zulkarnain.

    Sebagai Wakil Ketua Majelis Fatwa PB Mathla’ul Anwar, Ustadz Tengku merasa punya kewajiban moral untuk menyukseskan jalannya Muktamar.

    Pada redaksi mathlaulanwar.or.id, seraya mengharap Ridha Allah SWT, Ustadz Tengku menuturkan bahwa pada Muktamar ke XX ini para muktamirin harus bisa memformulasikan kerangka kerja yang efektif dan hasil – hasil terbaiknya.

    Bergabung sejak usia remaja dengan Mathla’ul Anwar, Ustadz Tengku merasa bahwa MA memberikan suatu catatan penting baginya.

    “Di Mathla’ul Anwar saya bernaung sejak usia remaja. Memberikan gaya pemahaman Islam yang lurus tapi tegas, tidak memanfaatkan dan minta jabatan pada penguasa,” kata Ustadz Tengku yang juga Wakil Sekjen MUI Pusat 2015 – 2020.

    Mathla’ul Anwar yang berdiri di Menes, Pandeglang tahun 1916 memiliki komitmen kuat terhadap keutuhan bangsa dan pencerdasan umat.

    “MA sejak berdirinya berkomitmen menjaga NKRI dengan pemahaman Islam Ahlussunnah wal Jama’ah yang ketat melalui dakwah, pendidikan, sosial, dan ibadah serta khidmat pada umat Islam dan rakyat Indonesia tanpa pamrih,” tuturnya.

    Sikap itu yang kami warisi dan dapatkan dari para sesepuh Mathla’ul Anwar terdahulu. Semoga ke depan dapat ditiru dan dikembangkan lebih baik lagi oleh putera – puteri kader penerus perjuangan Mathla’ul Anwar, harapnya. (Fr)

  • Mengenang K.H Irsjad Djuwaeli: Sikap Kenegaraan dan Ke-Islam-an Indonesia

    Mengenang K.H Irsjad Djuwaeli: Sikap Kenegaraan dan Ke-Islam-an Indonesia

    Mathlaulanwar.or.id,- KH Irsjad Djuwaeli, gerak dan aliran pemikiran keagamaan dalam bernegara. Tokoh ulama pendiri sejumlah pesantren dan politisi asal Banten ini, baru saja meninggalkan kita (6 Januari 2021). Beliau, almarhum, belakangan ini kerap muncul dalam ruang publik, termasuk pada ormas Mathlaul Anwar. Dalam beberapa sambutan segarnya, beliau sering mengutarakan sikapnya tentang hubungan baik antara Islam & negara di Indonesia.

    Pandangannya tertuju pada komitmen berbangsa. Pancasila adalah pemersatu antara keduanya. Dengan Pancasila, tidak ada sekularisasi antara Islam & Negara di Indonesia. Kita sebagai warga bangsa, harus menjadi bagian dari membangun bangsa.

    Sikap kebangsaannya itu, diwujudkan dengan ambil bagian dalam proses kepemimpinan nasional. Media online memberitakan tentang kedekatan beliau dengan KH Maruf Amin, mantan ketua MUI kini Wapres RI. Beliau pun terbuka untuk berbeda pikiran dan sikap dalam proses kepemimpinan nasional, termasuk saat perhelatan capres & cawapres.

    Pola pemikirannya dapat kita rujuk pada referensi pemetaan antara pemikiran Abu Ala al-Maududi, Syeikh Ali Abd. Rajik, dan Fazlurrahman. Dari tiga tokoh ini, pola hubungan Islam dan negara masih menjadi perbincangan dalam pemikiran Islam. Setidaknya ada tiga pola hubungan agama dan negara ini, yakni: fundamentalisme, sekularisme, substansialisme.

    Pola fundamentalisme mengangkat ide kesatuan Islam dan negara. Islam adalah nilai tertinggi dari Ilahi, dan perlu ruang untuk pengamalannya yang disebut negara. Islam & negara berada secara bersamaan, dan seiring sejalan.

    Dalam pola sekularisme, memandang perlunya pemisahan secara mutlak antara Islam dan Negara. Islam adalah konsep yang pasti, sedangkan negara bisa nisbi, dinamis seiring penataannya di jaman yang menuntut perubahan penyesuaian kekinian. Teks Islam dipandangnya harus netral dalam bersentuhan dengan politik.

    Dan yang terakhir pola substansialisme. Pada pola ini nilai-nilai religius masuk dalam sistem kenegaraan. Agama pada area keyakinan dan pengamalan ibadah ritual serta sosial berada pada instrumen negara. Secara substantif, agama menjadi bagian yang mendasari dan mewarnai kehidupan bernegara.

    Ketiga pola hubungan Islam dan negara ini, masing-masing memiliki alasan logik. Namun demikian perdebatan ketiganya pun cukup tajam. Bermula dari ranah pemikiran, merunut pada sistem pendidikan yang panjang dan kaderisasi gerakan yang nampak berbeda. Masing-masing pola ini sering muncul dalam ruang publik yang terkesan bersebrangan bahkan berbentrokan

    Kita tidak masuk pada jargon meng-Islam-kan negara, atau menegarakan Islam. Harmoni Islam dalam Pancasila adalah unik, spesifik dan khas Islam rahmatallilalamin ke-Indonesia-an. Umat Islam adalah warga di Republik ini. Umat Islam pun pejuang dan pendiri dari republik ini.

    epublik Indonesia diperjuangkan dan dibangun bersama oleh kebinekaan Indonesia. Karenanya dalam membangun bangsa ini, umat Islam harus ambil bagian. Umat ​​Islam sesuai dengan kedekatan relasional di tingkat pemerintahan, harus berupa menjadi mitra pembangunan. Bersama pemerintahan di tingkat pusat, provinsi, kabupaten / kota, kecamatan, desa, RW, RT, umat Islam harus berupaya untuk berkhitmat pada pemimpin. Sinergi ulama dan umara, serta semua elemen bangsa menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam membangun Indonesia.

    Demikian paparan singkat ini, semoga mendapat inspirasi tentang bagaimana memberi makna & nilai dalam kehidupan berbangsa & bernegara. Kita sebagai umat Islam berkewajiban melakukan amal sholih. Dan untuk ini perlu penataan pemikiran termasuk dalam kehidupan sebagai warga bangsa di Indonesia.

  • Penusukan Terhadap Wiranto, MA Eropa: Tindakan yang Keji

    Penusukan Terhadap Wiranto, MA Eropa: Tindakan yang Keji

    Keluarga besar alumni Mathla’ul Anwar Eropa setelah menerima berita secara formil melalui Pengurus Besar Mathla’ul Anwar dan informil via media, tentang insiden penusukkan terhadap Bapak Jenderal TNI (Purn) H. Wiranto, S.IP., dengan ini menyatakan:

    1. Tindakan penusukkan yang terjadi pada pak Wiranto adalah satu tindakan tidak dibenarkan dan terkutuk;

    2. Kejadian penusukkan di Menes yang merupakan tempat MA lahir, dan setelah Pak Wiranto menghadiri acara peresmian gedung kuliah baru atas undangan UNMA (Universitas Mathla’ul Anwar), maka kami menyayangkan kejadian bisa terjadi karena dengan kejadian tersebut akan membuat image Mathla’ul Anwar secara skala Nasional dan luas ternodai. Maka menghimbau bagi semua kader Mathla’ul Anwar dimanapun berada untuk mengklarifikasi dan mendukung pernyataan PBMA bahwa kejadian tersebut tidak ada relevansinya dengan Mathla’ul Anwar, sehingga Mathla’ul Anwar terhindar dari korban buzzer, hoax dan fitnah yg tidak bertanggung jawab;

    Baca juga :  Haji Furodah, Sebuah Dilema

    3. Semoga kejadian penusukkan bapak Wiranto sebagai Dewan Penasehat Pengurus Besar Mathla’ul Anwar merupakan pelajaran berharga bagi organisasi kita untuk menyatukan sikap dan kebersamaan membuat Mathla’ul Anwar semakin maju dan Istiqomah dalam memperjuangkan misinya sesuai dengan harapan pendirinya, yaitu untuk kemulyaan Islam dan Muslimin Insha Allah;

    Hadanallahu waiyyakum ilaa shiratil mustaqiem

    Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh

    Den Haag-Belanda, 11 Oktober 2019

    Hamdi Rafioeddin

    Ketua Dewan Pembina dan Penasehat Keluarga Besar Alumni Mathla’ul Anwar Eropa