Sesaat hendak menunaikan ibadah salat Iduladha, ribuan warga Palestina mendapat serangan dari polisi Israel, Ahad (11/8). Menurut pernyataan saksi yang dirilis Reuters, tembakan granat terus-menerus dilancarkan Israel demi mengusir warga Palestina yang berada di Kompleks Al-Aqsa, Yerusalem.
Imbasnya, sebanyak 14 warga Palestina mengalami luka-luka, empat di antaranya adalah penjaga Masjid Al Aqsa. Layanan Ambulans Palestina mengungkapkan, mereka langsung dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama.
Sementara itu, perjuangan warga Palestina yang bertahan belum berhenti. Beberapa bahkan ada yang menghadap langsung kepada polisi Israel untuk menghentikan aksi serangan tersebut. Namun, permintaan warga Palestina tak dihiraukan oleh polisi Israel.
Setelah membuat bubar warga Palestina yang hendak menunaikan salat Iduladha, polisi Israel pun benar-benar menutup Masjid Al-Aqsa. Beberapa pengunjung diperbolehkan masuk ke dalam kompleks melalui pintu tertentu, tetapi tidak untuk masuk ke dalam Masjid Al-Aqsa.
Warga Palestina tak tinggal diam, mereka pun berjanji akan terus memperjuangkan Al Aqsa, masjid pertama bagi umat muslim di dunia. Pasalnya, Israel bukan saja merenggut nyawa, tetapi juga menghalangi warga Palestina untuk menunaikan ibadahnya.
“Dengan jiwa dan darah kami, kami akan menebusmu, Aqsa!” seru warga Palestina.
Mathlaonline,- Masyarakat Kampung Cikiara Desa Parakan Limus Kecamatan Cirinten, Kabupaten Lebak tiga tahun terakhir ini bisa bernafas lega lantaran anak anaknya bisa bersekolah tanpa harus menempuh jarak tempuh yang cukup jauh.
Hal ini dituturkan oleh Roma Haryanto, salah seorang pengajar di Madrasah tersebut mengatakan bahwa anak anak di daerah tersebut yang ingin bersekolah di SD Negeri harus menempuh jarak 10km dari kampung tersebut dan yang paling dekat adalah MI Mathla’ul Anwar Pasir Tapos yang berjarak 7 Km
“lima tahun yang lalu masyarakat Cikiara datang ke saya agar di Cikiara ada madrasah, akhirnya setelah mereka datang beberapa kali, saya bersama rekan rekan pengajar lainnya menyanggupi adanya di daerah tersebut” ujar Haryanto
Baca juga :Dibuka Pendaftaran Beasiswa Full Ma’had Lughoh Universitas Ummul Qura Makkah Al-Mukarromah 2017/2018
Pendirian Madrasah Ibtidaiyah MA di Cikiara semuanya murni dari swadaya masyarakat. Mereka mendirikan bangunan dari bambu beratapkan terpal dan masih berlantaikan tanah dan rumput.
“sampai saat ini sudah ada tiga kelas yang berjalan mulai dari kelas 1-3 MI” tambah Haryanto
Demi adanya madrasah di wilayah tersebut masyarakat setempat telah mewakafkan tanah seluas 1500 m2 kepada Mathla’ul anwar yang diwakili nadzirnya oleh Roma Haryanto.
“kami bersama pengajar lainnya berkomitmen agar kegiatan belajar mengajar di madrasah ini terus berjalan” tambah Roma Haryanto.
Roma Haryanto sendiri bukan sosok yang baru di Mathla’ul Anwar, ia ikut mendirikan MI Mathla’ul Anwar Pasireurih Cijaku yang sekarang dipindahkan KBMnya di Suka Maju Pasir Tapos.
Baca juga :Mathla’ul Anwar apresiasi pencabutan Perpres investasi miras
Perguruan MA Pasir Tapos telah memiliki tiga lembaga pendidikan yakni Pendidikan Taman Quran, Madrasah Ibridaiyah dan Madrasah Tsanawiyah.
“kami mohon doanya kepada semuanya agar semangat belajar siswa-siswi kami tetap terjaga, bagaimanapun mereka adalah generasi emas penerus bangsa ini” tutup Haryanto.
Kali ini Tim redaksi menelusuri jejak-jejak sejarah Islam dan Mathla’ul Anwar. Minggu akhir bulan April 2017, kami mendatangi kampung Janaka, Desa Jaya Mekar Kecamatan Jiput, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Kami menemui sesepuh dan tokoh setempat diantaranya Ustadz Nasirin di Kampung tersebut dan mewancarainya tentang keberadaan Mesjid Al-Jamal Janaka yang masih kokoh berdiri.
Mesjid Al-Jamal atau Mesjid Janaka, berada di Kampung Janaka, bisa ditempuh dari Jakarta sekitar 4 sampai lima jam perjalan dengan menggunakan mobil pribadi. Bisa ditempuh melalui Ibu Kota Pandeglang dengan keluar dari Pintu Tol Serang Timur kemudian masuk kota pandeglang atau keluar pintu tol cilegon sambil menyusuri indahnya pesisir pantai Anyer sampai Carita. Kampung tersebut berada di kaki gunung Aseupan.
Dalam posisi google map posisi mesjid tersebut bisa dilacak Menurut penuturan sesepuh yang kami temui di sana yang masih memegang tadisi tutur, mereka mendengar cerita dari leluhurnya bahwa mesjid tersebut didirikan 1875 lebih tua 8 tahun dari Mesjid Agung Caringin yang didirikan pada tahun 1884 setahun setelah meletusnya Gunung Krakatau dan Mesjid Agung Carita yang berdiri pada tahun 1895. Nama mesjid Al-Jamal di sematkan oleh masyarakat dan diambil dari nama pendiri mesjid tersebut, KH. Mas Djamal. Ia merupakan seorang ulama setempat yang memiliki hubungan kekerabatan dengan Kesultanan Banten di masa itu
Konon, kata Mas/Hipermas yang melekat pada nama Mas Jamal merupakan keturunan tokoh legendaris kakak beradik Ki Mas Jong dan Ki Agus Ju, yang menjadi pengikut setia dari Sultan Hasanuddin. Sedangkan Ki Mas Jong orang pertama yang masuk Islam di Banten.
Jarak antara kampung Janaka dan Kesultanan Banten
Sebelum mesjid berdiri, tempat tersebut merupakan surau/langgar yang peruntukannya untuk shalat lima waktu namun bukan untuk shalat Jumat. Untuk shalat Jumat Mas Djamal dan dan KH Markani beserta masyarakat menunaikan shalat Jum’at di Mesjid Agung Kesultanan Banten yang terletak di pesisir Utara pantai Jawa dengan jarak puluhan kilo, melewati terjalnya gunung haseupan agar tidak terlihat oleh pemerintah kolonial Belanda. Di ceritakan oleh sesepuh di sana untuk sampai ke Mesjid Agung Banten Masyarakat Janaka harus pergi dari rabu atau hari kamis agar tidak ketinggalan untuk mengikuti Shalat Jum’at. Faktor inilah yang melat belakangi pendirian mesjid tersebut.
Kiai Mas Djamal meminta kepada Kesultanan Banten agar beliau beserta masyarakat diperbolehkan mendirikan mesjid di kampung tersebut agar semua kaum muslimin yang laki laki bisa melaksanakan shalat Jum’at. Maka dibangunlah mesjid tersebut pada tahun 1875 Masehi. Menurut buku karya Muhammad Nahid Abdurrahman yang berjudul “KH Mas Abdurrahman Pendiri Mathla’ul Anwar” tahun tersebut adalah kelahiran KH Mas Abdurrahman putera dari KH Mas Djamal. Sementara itu, dalam buku berjudul “Dirasah Islamiyah I: Sejarah dan Khittah Mathla’ul Anwar” yang diterbitkan Pengurus Besar Mathla’ul Anwar menyebutkan bahwa KH Mas Abdurrahman lahir pada 1868.
Baca juga :Naskah Pidato Mama Idjen Pada Forum Curah Pendapat Pra Muktamar XVI MA 2001
Mendengar permohonan Ki Mas Djamal maka pihak kesultanan Banten merestui rencana pembangunan mesjid tersebut dan mengirimkan beberapa barang untuk kebutuhan pembanguna mesjid diantaranya:
1. Mastaka (hiasan diatas Kubah),
2. Mimbar
2. Tongkat (tongkat untuk khotib saat berkhutbah),
3. Alat Palak (penentu waktu shalat)
4. Kitab Fiqih
5. Rampadan (tempat Air)
6. Tiang Besar Mesjid
Tiada yang tahu persis bahkan tidak ada sejarah yang tertulis mengenai cara membawa barang-barang beserta alat alat tersebut yang begitu besar untuk sampai ke kampung Janaka yang terletak di kaki gunung Aseupan. Menurut pengakuan beberapa sesepuh setempat bisa jadi berkat Izin Allah Subhanahu Wata’ala dan karomahnya KH Mas Djamal sehingga barang-barang tersebut sampai ke kampung Janaka
Masih penuturan Ustadz Nasirin dan tokoh-tokoh setempat bahwa mastaka yang berada di kubah mesjid yang masih ada sekarang memiliki energi tersendiri. Dulu kalau akan terjadi huru-hara baik oleh Belanda maupun oleh pengacau lainnya maka mastaka akan menunjuk ke arah mana huru-hara tersebut terjadi.
Para sesepuh juga menceritakan pasca peristiwa Geger Cilegon pada tahun 1888, di mana Ki Wasyid (bapak dari KH Mansur Muhidin Pendiri Al Khoiriyah Cilegon) bersama para tokoh Banten bersembunyi di kampung Janaka dan ditampung dan dirawat oleh Ki Mas Djamal karena mengalami luka-luka. Setelah suasana dan kondisi badan membaik, sebagai wujud terima kasih kepada ki Mas Djamal, Ki Wasyid menawarkan hadiah kepada Ki Mas Djamal. Namun, Ki Mas Djamal menolaknya, ia hanya minta kepada ki Wasid agar putera-puteranya menjadi anak Soleh.
Baca juga :AKAN TETAP JAYA: REFLEKSI 108 TAHUN MATHLA’UL ANWAR
Tidak berapa lama setelah geger Cilegon di tahun 1890-1900an Ki Mas Djamal pergi menunaikan Ibadah Haji ke Mekkah Al-Mukarramah. Namun ia tidak pernah kembali ke kampung Janaka. Untuk memastikan keberadaan Ki Mas Jamal, maka puteranya Ki Mas Abdurrahman pergi ke Mekkah sekaligus untuk belajar di sana. Dikabarkan olehnya, bahwa bapaknya, KH Mas Djamal meninggal di sana setelah menunaikan ibadah Haji.
Tidak jauh dari Mesjid Al-Jamal berdiri juga madrasah Ibtidaiyah Mathla’ul Anwar yang didirikan oleh masyarakat setempat atas saran KH Mas Abdurrahman pada tahun 1926. Untuk tahun ini,(2017) para tokoh setempat di kampung Janaka telah mendirikan Madrasah Aliyah Mathl’aul Anwar dan sekarang sedang melakukan proses penerimaan siswa baru, Insha Allah, Wallahu’alam (DEF/Nurdin)
berikut foto-foto kondisi Mesjid Al-Jamal Janaka
Di dalam Mesjid, nampak mimbar khutbah berada di depan tempat imam (doc/Nurdin)
Salah satu bagian mesjid (doc/Nurdin)
Alat Falak, penentu jadwal shalat (doc/Nurdin)
Selasar kanan mesjid (Doc/Nurdin)
Bagan Struktur DKM Al Jamal Janaka (Doc/Nurdin)
Mesjid Al Jamal nampak dari jalan Sebelah Kanan (Doc/DEF)
Mesjid Al Jamal nampak dari sebelah kiri (Doc/Nurdin)
Madrasah Ibtidaiyah Mathla’ul Anwar Janaka berdiri tahun 1926 (Doc/DEF)
Duka tengah menyelimuti Keluarga besar Mathla’ul Anwar Sekitar pukul 3 Sore, Rabu,8/3/2017), salah seorang pejuang Mathla’ul Anwar, H. Lili Suhaeli meninggal dunia. Hal tersebut dikonfirmasi oleh staf Kesekretariatan PBMA, Nurul Fajri.
“Innalilahi wainailaihi rojiun telah berpulang ke rahmatullah Bapak H Lili Suhaeli Jam 15:oo di RSUD Pandeglang,” tulis Nurul Fajri pada Media Sosial Whatsapp.
Dikatakan H. Abdul Qadir Jaelani, ayahnya meninggal akibat sakit jantung yang sudah lama diidapnya. Jenazah disemayamkan di rumah Duka di Kp. Cikanas, Desa Menes, Kecamatan Menes, Pandeglang serta akan dishalatkan pada jam 20.00 WIB, Rabu, 08/3/2017 di Mesjid dekat kediamannya.
Menurut Ir. H. Andi Yudi Hendriawan salah seorang Pengurus Teras PBMA dalam pesan singkatnya “Seluruh Keluarga Besar Mathla’ul Anwar sangat kehilangan tokoh kasepuhan H. Lili Suhaeli, tokoh pemberi semangat anak2 muda untuk tampil memimpin MA….Semoga Allah SWT senantiasa menempatkan beliau disisi kemuliaanNya….alfatihah”
Salah satu sekolah unggulan di Banten, Madrasah Aliyah Mathla’ul Anwar Pusat Menes Banten tahun 2016 ini patut berbangga, karena puluhan siswanya diterima di berbagai Perguruan Tinggi Negeri Favorit, seperti IPB, Unila dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Berdasarkan data dari Bapak Abud, Kepala TU Aliyah MA Pusat, terdapat 46 siswa yang lolos tahun ini, sangat membanggakan, seperti terlihat dibawah ini.
Bahkan, salah satu murid yang bernama ananda Eva Agustina Jayati telah berhasil lolos seleksi PBSB (Program Beasiswa Santri Berprestasi) Kemenag RI Tahun 2016 di UIN SGD Bandung Jurusan Tasawuf Psikoterapi.
“Kami sangat bangga karena perwakilan Banten yang lolos seleksi hanya 2 orang, 1 dari BSD & 1 lagi dari sekolah kami ” MA Mathla’ul Anwar Pusat Menes”.. Hidup MA..”
ucap Ibu Yeyen Ervina, salah seorang guru hebat dari sekolah unggulan di Indonesia ini. Hasil ini mendapat banyak pujian dari warga masyarakat dan alumni, terlihat dari komentar netizen di halaman facebook salah satu guru.
Disamping meloloskan siswa-siswinya, sekolah ini juga memiliki segudang prestasi membanggakan,seperti juara 1 putri kemah riset nasional, juara LCC Fisika Tingkat Nasional serta juara 3 lomba karya tulis tingkat nasional, dan sederet prestasi lainnya.
SEKILAS SEJARAH SEKOLAH UNGGULAN MADRASAH ALIYAH MA PUSAT MENES
Berumur lebih dari 60 tahun, sekolah ini memiliki segudang prestasi dan menjadi rujukan dari berbagai sekolah di Indonesia, siswa sekolah ini berasalah dari berbagai penjuru tanah air, terutama jawa dan Sumatera, mereka mempercayakan muridnya karena kredibilitas dan sejarah panjang Mathla’ul Anwar dalam pendidikan islam dan gerakan mencerdaskan kehidupan Bangsa. Bahkan lulusan sekolah ini dapat belajar tanpa tes untuk mendalami ilmu agama ke berbagai perguruan tinggi islam di Saudi dan Mesir.
Madrasah Aliyah Mathla’ul Anwar Pusat Menes Kabupaten Pandeglang berdiri tahun 1952. Merupakan salah satu badan pendidikan di bawah pengelolaan Perguruan Mathla’ul Anwar Pusat Menes yang berdiri sejak 1916.
Dalam perjalanannya yang sudah lebih setengah abad, Madrasah Aliyah Mathla’ul Anwar Pusat Menes telah mengalami beberapa kali regenerasi kepemimpinan. Mereka yang pernah memimpin Madrasah Aliyah Mathla’ul Anwar Pusat Menes dari awal berdirinya hingga sekarang adalah :
Baca juga :Peletakan Batu Pertama Pembangunan Mesjid Di Komplek Sekolah Mathla’ul Anwar Desa Langensari Pandeglang
Para alumni sekolah ini telah berdiaspora ke seluruh Indonesia dan memberikan kontribusi yang berarti bagi Bangsa sesuai bidang masing-masing.
Saat ini pihak sekolah dan perguruan terus meningkatkan mutu dan fasilitas belajar, menjadi sekolah yang bersih,nyaman dan aman. Struktur sekolah saat ini, sebagai ketua perguruan, Bapak Dr.Jihaduddin, M.Pd dan Kepala Sekolah dijabat oleh Bapak Muhajirin, S.pd serta didukung oleh guru-guru berkualitas dan beretika tinggi.